
JAKARTA,– Publik kembali mendapat kabar baik. PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk menggandeng Pandawara Group dalam kegiatan River Clean Up di Sungai Cioray, Bandung. Kegiatan ini bagian dari program GoZero% Goes to Bandung sekaligus memperingati World Clean Up Day (20 September) dan Hari Sungai Sedunia (28 September). Apa hasilnya? Tak main-main, 1.481 kilogram sampah berhasil diangkat dari aliran sungai.
Lebih dari 75 peserta ikut terlibat: manajemen Telkom, karyawan, mahasiswa Telkom University, hingga Pandawara Group yang sudah dikenal luas sebagai gerakan anak muda Bandung dengan pengaruh nasional. Kolaborasi ini membuktikan bahwa urusan sampah tak bisa terus-menerus ditendang ke pangkuan pemerintah. Sungai tak butuh pidato panjang, tapi butuh tangan-tangan yang rela kotor untuk mengangkat plastik dan limbah yang kita buang sendiri.
Dalam aksi ini, Telkom menegaskan bahwa transformasi digital yang mereka jalankan harus berjalan beriringan dengan keberlanjutan. Inisiatif GoZero% yang mereka usung juga mendukung target Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK): pengurangan sampah 30% dan penanganan 70% pada 2025. Tapi mari jujur, angka-angka itu hanya jadi mimpi di atas kertas kalau masyarakat masih malas memilah sampah rumah tangga. Ironis sekali, kita pandai memainkan gadget canggih, tapi malas mengurus plastik di dapur.

Gagas Nusantara mengapresiasi inisiatif Telkom. “Kita harus belajar dari teladan Telkom. Mereka mengajarkan lewat tindakan, bukan sekadar slogan. Sungai dibersihkan bersama Pandawara, itu artinya ada kepedulian nyata. Tapi peduli saja tidak cukup, publik juga harus berubah. Kalau sungai terus dijadikan tong sampah, semua aksi bersih-bersih akan percuma,” kata Romadhon Jasn kepada awak media, Jumat (26/9/2025).
Faktanya, Indonesia masih mencatatkan diri sebagai salah satu penyumbang sampah plastik ke laut terbesar di dunia, sekitar 3,2 juta ton per tahun (data KLHK 2023). Itu bukan prestasi, tapi aib kolektif. Dan jika dibiarkan, bencana lebih besar dari sekadar banjir musiman akan datang: generasi mendatang mewarisi sungai kotor dan laut penuh sampah.
Romadhon menegaskan, “Ini soal kedaulatan lingkungan. Sungai adalah urat nadi bangsa. Tanpa sungai yang sehat, jangan harap kita bisa bicara soal air bersih, pangan, apalagi masa depan anak cucu. Telkom dan Pandawara sudah menunjukkan jalannya. Pemerintah daerah, sekolah, dan ormas pemuda harus ikut turun tangan.”
Lebih jauh, Telkom lewat aksi ini juga mengingatkan bahwa perusahaan besar tak boleh hanya sibuk mengejar laba, tapi harus menaruh investasi sosial yang nyata. Romadhon menggarisbawahi hal ini: “BUMN sebesar Telkom memberi contoh bahwa tanggung jawab sosial bukan pilihan, melainkan kewajiban. Kalau mereka bisa, kenapa swasta dan masyarakat tidak mau ikut?”
Namun bersih-bersih sungai bukan pekerjaan sehari. Ini maraton panjang yang butuh konsistensi. Evaluasi dan kontrol harus jadi bagian dari gerakan. “Tidak ada perubahan tanpa kebiasaan baru. Kita dorong agar aksi seperti ini dilakukan berulang, bukan sekali lalu berhenti. Konsistensi itu yang akan mengubah wajah sungai-sungai kita,” ujar Romadhon.
Fakta lain menunjukkan, 80% sampah laut di Indonesia berasal dari daratan, sebagian besar dari aliran sungai. Itu artinya, setiap bungkus plastik yang kita lempar sembarangan pada akhirnya akan kembali ke meja makan kita dalam bentuk mikroplastik di ikan dan garam. Aksi Telkom di Sungai Cioray ini bukan hanya soal citra perusahaan, tapi menyentuh persoalan kesehatan publik.
Sebagai penutup, Romadhon memberi pesan lugas: “Publik harus berhenti sinis. Kalau ada aksi yang bagus, dukung. Jangan tunggu sempurna. Telkom dan Pandawara sudah memberi teladan. Sekarang tugas kita melanjutkan dengan partisipasi. Ingat, sungai adalah tempat hidup, bukan tempat sampah.”





