
JAKARTA,- Sembilan puluh tujuh tahun setelah Sumpah Pemuda dikumandangkan, semangat persatuan kini hadir dalam wujud yang lebih konkret: kesempatan untuk berkarya. Dalam momentum peringatan Sumpah Pemuda 2025, Pertamina membuka lebih dari 5.000 peluang kerja dan magang bagi generasi muda di seluruh Indonesia. Langkah ini menjadi simbol bahwa energi bangsa tidak hanya tersimpan di dalam bumi, tetapi juga di dalam pikiran dan tekad anak mudanya.
Direktur Sumber Daya Manusia Pertamina, Andy Arvianto, menyebut inisiatif ini sebagai bagian dari komitmen membangun sumber daya manusia unggul di sektor energi. “Kami ingin menciptakan ruang seluas-luasnya agar generasi muda dapat belajar, berkembang, dan memberi kontribusi nyata bagi bangsa,” ujarnya. Bagi Pertamina, pengembangan talenta muda bukan sekadar program kerja, melainkan investasi jangka panjang untuk masa depan industri energi Indonesia.
Program rekrutmen dan magang yang digelar sepanjang tahun ini menjaring ribuan peserta dari berbagai wilayah, termasuk daerah-daerah yang sebelumnya jarang tersentuh akses industri besar. Dari total kesempatan tersebut, lebih dari 1.500 pemuda diterima sebagai pegawai baru, sementara 3.400 lebih peserta lainnya menjalani magang dan praktik kerja lapangan di sektor energi, logistik, dan teknologi digital.
Romadhon Jasn, Direktur Gagas Nusantara, menilai langkah Pertamina ini menunjukkan bentuk nasionalisme yang relevan dengan zaman, nasionalisme yang bekerja, bukan hanya berbicara. Ia menekankan bahwa memberi ruang bagi anak muda untuk belajar dan tumbuh adalah bentuk nyata dari semangat Sumpah Pemuda yang sejati. “Kemandirian energi tidak mungkin tercapai tanpa kemandirian pikiran dan kesempatan,” ujarnya.
Selain membuka lowongan kerja, Pertamina juga melaksanakan Pre Employment Training (PET) untuk mempersiapkan peserta memahami bisnis energi secara menyeluruh. Andy menjelaskan, pelatihan tersebut menjadi bekal penting bagi calon perwira muda Pertamina. “Kami ingin mencetak generasi yang mampu menyeimbangkan idealisme dan profesionalisme, karena keduanya sama pentingnya bagi masa depan industri energi,” jelasnya.
Pertamina menggandeng universitas, lembaga pelatihan, dan komunitas pemuda dalam mengembangkan materi pelatihan. Kolaborasi lintas sektor ini memperkuat nilai gotong royong di bidang pendidikan dan ketenagakerjaan. Di tengah proses itu, Romadhon Jasn menegaskan bahwa sinergi antara perusahaan dan masyarakat menjadi kunci agar energi ekonomi nasional dapat dirasakan hingga ke pelosok negeri.
Bagi Pertamina, membangun manusia berarti menyalakan harapan. Program ini dirancang bukan hanya untuk memperluas lapangan kerja, tetapi juga menciptakan rantai nilai baru yang mendorong pertumbuhan ekonomi daerah. Dalam setiap prosesnya, masukan publik tetap diterima sebagai pengingat agar program berjalan transparan dan inklusif.
Semangat Sumpah Pemuda tahun ini menjadi pengingat bahwa setiap anak muda memiliki potensi untuk menjadi bagian dari perubahan. Pertamina berusaha memastikan bahwa semangat itu tidak berhenti di tataran simbolik, melainkan diwujudkan melalui kebijakan yang membuka jalan bagi generasi penerus bangsa.
“Ketika generasi muda diberi ruang untuk tumbuh dan perusahaan besar mau mendengar suara publik, maka energi bangsa akan terus menyala tidak hanya di pipa minyak, tapi juga di hati rakyatnya,” tutup Romadhon Jasn.





