Indonesia Visioner
  • BERANDA
  • PERISTIWA
  • POLHUM
  • EKONOMI
  • VIDEO
  • ENTERTAINMENT
  • LUAR NEGERI
  • LIPUTAN DISKUSI
  • LIFESTYLE
  • RESENSI
  • SPORT
  • OPINI
  • INDEKS
No Result
View All Result
Indonesia Visioner
No Result
View All Result

Mengakhiri Gerhana Politik Di Kota Kupang

by Aulia Rachman Siregar
Maret 15, 2016
in Daerah, Opini
Reading Time: 3min read
Mengakhiri Gerhana Politik Di Kota Kupang
0
SHARES
59
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

Oleh: Farhan Suhada, S.Sos, M.Si *)

Awal tahun 2016 ini suhu politik di Kota Kupang mulai memanas. Hal ini dipicu oleh polemik beasiswa yang melibatkan dua tokoh kunci yakni Walikota Kupang, Jonas Salean dan Anggota DPR RI, Jefri Riwu Kore. Perseteruan kedua figur terkait kasus beasiswa tersebut menjadi konsumsi publik yang laris manis di media publik menjelang Pilkada Kota Kupang tahun 2017. Baca juga http://www.timorexpress.com/20160206101026/pemkot-tolak-beasiswa

Camera 360
*Foto dari kiri* Jonas Salean & Jefri Riwu Kore

Kasus tersebut ibarat menabuh genderang perang perebutan kursi nomer 1 Penguasa Kota Kupang tahun depan. Semua sudah mafhum bahwa Jonas dan Jefri berpeluang besar melanjutkan rivalitas Pilkada tahun 2012 lalu ke momentum Pilkada 2017. Dengan pengaruhnya masing-masing sebagai walikota dan wakil rakyat di level nasional, rasanya tidak ada lagi figur lain yang bakal merusak dominasi keduanya.

Rivalitas Jonas-Jefri menjadi tak mengapa jika hanya berimplikasi terbatas bagi keduanya dan para pendukungnya saja. Sayangnya perseteruan kedua ‘gajah’ ini telah berdampak luas pada kepentingan banyak orang terutama rakyat di level akar rumput.  Rakyat yang harusnya mendapatkan pelayanan yang maksimal dari kedua pemimpin ini justru disuguhkan dagelan politik yang menurut penulis sangat kontra produktif. Ibarat peribahasa, “gajah bergajah-gajah, pelanduk mati di tengah-tengah”.

Peristiwa gerhana matahari total yang terjadi pada 9 Maret 2016 kemarin sejatinya bisa menjadi pelajaran bagi para pemimpin tersebut. Ketika posisi Bumi, Bulan dan Matahari yang sejajar, dimana Bulan berada di tengah garis lurus tersebut, maka secara otomatis akan menghalangi Matahari yang harusnya menyinari Bumi pada siang hari. Akibatnya adalah kegelapan melanda beberapa titik pada belahan bumi tertentu.

Fenomena terhalangnya Bumi mendapatkan sinar tersebut bila ditarik pada fenomena politik di Kota Kupang, menurut penulis ada kemiripan dimana para pelajar yang harusnya mendapatkan beasiswa  ternyata batal dikarenakan terhalang oleh kebijakan Walikota.

Bila rakyat diibaratkan Bumi, Walikota diibaratkan Bulan dan Anggota DPR RI bagaikan Matahari, maka sejatinya sinergilah yang harus berlangsung agar Bumi tidak dilanda kegelapan. Ketika siang Matahari langsung menyinari Bumi, maka pada malam hari, Bulan menerangi Bumi setelah memantulkan sinar sang mentari. Begitupula dengan bangunan relasi antara rakyat, walikota dan wakil rakyat.

Rakyat dalam hal ini warga kota kupang sejatinya dilayani dan disejahterakan oleh para wakilnya atau pemimpinnya. Para wakil rakyat terutama yang berada di level DPR RI bertugas memperjuangkan alokasi anggaran dalam APBN pertahunnya bagi kemaslahatan rakyat di daerah. Jefri Riwu Kore dalam hal ini sebagai anggota DPR RI dari Daerah Pemilihan NTT II yang meliputi daratan Timor, Sumba, Rote dan Sabu bertugas memperjuangkan kepentingan rakyat di daerah tersebut pada lembaga legislatif di pusat. Tugas ini bukan tugas main-main. Tugas ini berkaitan dengan nasib dan masa depan rakyat di NTT termasuk di Kota Kupang. Dari sinilah aliran kebijakan mencerdaskan dan mensejahterakan anak bangsa bermula. Bagaikan sinar terang yang bersumber dari Matahari dipancarkan ke segala penjuru jagat raya, inilah sejatinya tugas para wakil rakyat di Senayan.

Adapun Jonas Salean sebagai Walikota Kupang sejatinya adalah pelayan warga Kota Kupang yang tugasnya memajukan dan mensejahterakan segenap warga kota dalam bingkai NKRI. Bagaikan Bulan yang berperan sebagai satelit Bumi dengan segala fungsinya, termasuk meneruskan sinar mentari ke Bumi di kala malam, posisi walikotapun hendaknya demikian. Menerjemahkan berbagai kebijakan nasional untuk selanjutnya mengatur sejumlah regulasi bagi keberlangsungan jalannya kehidupan rakyat di Kota Kupang adalah tugas suci bagi sang walikota.

Menyimak polemik terkait beasiswa tadi, sangat disesalkan bila para pelajar yang membutuhkan dana pendidikan tersebut batal mendapatkannya hanya karena permasalahan teknis yang diakibatkan oleh konflik antara Jonas dan Jefri. Di satu sisi Jefri merasa sudah total memperjuangkan kepentingan konstituennya. Sedangkan di sisi lain Jonas perlu melindungi rakyatnya dari berbagai hal yang dianggap tidak prosedural. Dua sudut pandang yang sesungguhnya memerlukan sikap kenegarawanan untuk mendudukkan permasalahan agar ditemukan solusi yang tepat. Sang walikota dan sang wakil rakyat sama-sama bertugas melayani rakyat karena keduanya juga adalah bagian dari rakyat dan dipilih langsung oleh rakyat. Kalau sudah demikian, harusnya yang terbangun adalah sinergi atau hubungan kerjasama. Bukan malah membuat sengketa yang berujung pada kesengsaraan rakyat. Bagi Jonas dan Jefri beserta para tim suksesnya, Pilkada 2017 sudah di depan mata. Akan tetapi bagi warga kota Kupang, masa setahun ini adalah masa yang cukup panjang dalam menjalani rutinitas hidup dengan beban yang kian berat.

Demi mengakhiri gerhana politik di Kota Kupang, ada empat hal yang perlu dicermati oleh Jonas dan Jefri. Pertama, bapak berdua sebaiknya lebih serius memperhatikan berbagai masalah dan dinamika yang terjadi di tengah-tengah rakyat. Menyerap apa yang menjadi suara hati dan penderitaan warga kota terutama golongan menengah ke bawah.  Kedua, dalam merealisasikan kebijakan sebagai walikota dan wakil rakyat, bapak berdua hendaknya lebih ikhlas atau memurnikan pengabdiannya untuk mengangkat derajat hidup warga kota. Sejumlah konflik-konflik kepentingan terkait apapun termasuk kontestasi Pilkada 2017 sebaiknya dibuang jauh-jauh.

Ketiga, agar lebih berhati-hati dalam menerapkan berbagai kebijakan. Sisi-sisi prosedural hendaklah menjadi perhatian masing-masing sehingga terhindar dari tumpang tindih pelaksanaan kebijakan. Keempat, bapak berdua agar tetap fokus menyadari akan tugas kenegaraan yang sedang bapak-bapak emban. Pak Jonas Salean adalah masih sebagai Walikota Kupang periode 2012-2017 dan Pak Jefri Riwu Kore masih bertatus sebagai Anggota DPR RI periode 2014-2019.

Bila datang gerhana mentari/

Bumi mendadak gelap gulita//

Bila para pemimpin berkelahi/

Biasanya rakyat yang menderita//

 

Penulis adalah Pengamat Politik Universitas Muhammadiyah Kupang

Previous Post

Eva, Perbankan BUMN harus dukung dunia usaha

Next Post

Ex PNPM merajuk ingin menguasai program pendampingan desa

Related Posts

Optimisme Pengelolaan Sampah: JAMMA Dukung Transformasi Hilirisasi Gubernur Pramono
Daerah

Optimisme Pengelolaan Sampah: JAMMA Dukung Transformasi Hilirisasi Gubernur Pramono

April 15, 2026
Macet Pengaruhi Kenyamanan Wisata Bali, ‘Water Taxi’ Ditekankan Terjangkau
Daerah

Macet Pengaruhi Kenyamanan Wisata Bali, ‘Water Taxi’ Ditekankan Terjangkau

April 11, 2026
Gunung Semeru erupsi 7 kali Senin pagi, tinggi letusan mencapai 1,1 km
Daerah

Gunung Semeru erupsi 7 kali Senin pagi, tinggi letusan mencapai 1,1 km

April 6, 2026
Mengapa Polri Butuh Lebih dari Sekadar Seremoni Hoegeng Awards?
Artikel

Mengapa Polri Butuh Lebih dari Sekadar Seremoni Hoegeng Awards?

April 6, 2026
Kemhut Sita Kembali 1.875 Hektare Hutan Ilegal di Bengkulu
Daerah

Kemhut Sita Kembali 1.875 Hektare Hutan Ilegal di Bengkulu

Maret 18, 2026
Kasus Anton Timbang, Visioner Indonesia Desak Media Jaga Akurasi Berita
Daerah

Kasus Anton Timbang, Visioner Indonesia Desak Media Jaga Akurasi Berita

Maret 17, 2026

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

TERKINI

Eks PB HMI Silaturahmi ke Dandim, Apresiasi Peran Kodim Kawal Koperasi Desa Merah Putih

Menjaga Marwah Ibadah: Pemuda Muslimin Jakarta Utara mendukung usulan Kemenimipas Percepatan Satgas Haji Non-Prosedural

Antusiasme Publik Tinggi, Satgas Haji Polri Diminta Tanpa Ampun Sikat Travel Nakal dan Visa Palsu

Optimisme Pengelolaan Sampah: JAMMA Dukung Transformasi Hilirisasi Gubernur Pramono

Merajut Kembali Persaudaraan Bangsa: Mengapa Dialog Lebih Utama dalam Kasus Jusuf Kalla?

Musyawarah Pimpinan Kecamatan Golkar Purwoharjo Perkuat Konsolidasi dan Arah Strategi Pemenangan

TERPOPULER

Eks PB HMI Silaturahmi ke Dandim, Apresiasi Peran Kodim Kawal Koperasi Desa Merah Putih

Menjaga Marwah Ibadah: Pemuda Muslimin Jakarta Utara mendukung usulan Kemenimipas Percepatan Satgas Haji Non-Prosedural

Antusiasme Publik Tinggi, Satgas Haji Polri Diminta Tanpa Ampun Sikat Travel Nakal dan Visa Palsu

Optimisme Pengelolaan Sampah: JAMMA Dukung Transformasi Hilirisasi Gubernur Pramono

Merajut Kembali Persaudaraan Bangsa: Mengapa Dialog Lebih Utama dalam Kasus Jusuf Kalla?

Musyawarah Pimpinan Kecamatan Golkar Purwoharjo Perkuat Konsolidasi dan Arah Strategi Pemenangan

  • About
  • Redaksi
  • Marketing & Advertising
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Email
  • Login
No Result
View All Result
  • BERANDA
  • PERISTIWA
  • POLHUM
  • EKONOMI
  • VIDEO
  • ENTERTAINMENT
  • LUAR NEGERI
  • LIPUTAN DISKUSI
  • LIFESTYLE
  • RESENSI
  • SPORT
  • OPINI
  • INDEKS

Indonesia Visioner - All Rights Reserved