
JAKARTA,- Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung menyatakan komitmennya untuk mengubah wajah kawasan Ancol agar lebih sesuai dengan selera generasi muda. Dalam kunjungan kerjanya akhir pekan ini, Pramono menilai Ancol harus diperbarui secara menyeluruh agar tak lagi hanya dipandang sebagai destinasi wisata nostalgia, melainkan menjadi ruang publik yang dinamis, segar, dan terintegrasi.
“Ancol jangan jadi tempat orang tua. Anak saya dan menantu saya terakhir kali ke Ancol waktu SMA. Artinya ada tantangan untuk membuat kawasan ini lebih relevan bagi anak muda,” ujar Pramono saat memberi keterangan di Jakarta, Minggu (27/7). Menurutnya, minat masyarakat terhadap Ancol perlu dibangkitkan kembali dengan cara yang inovatif.
Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, kata Pramono, siap memberikan dukungan penuh terhadap transformasi tersebut. Salah satu strategi yang akan dijalankan adalah meningkatkan konektivitas transportasi dari dan menuju Ancol. Rencana jangka pendeknya termasuk membangun jembatan penghubung dari kawasan Ancol menuju Jakarta International Stadium (JIS) sebagai bagian dari upaya integrasi lintas destinasi.
“Kita juga akan siapkan rute baru TransJakarta menggunakan bus listrik menuju Ancol. Ini penting agar kawasan ini hidup lagi, bukan hanya saat libur panjang,” tambah Pramono. Ia meyakini, revitalisasi kawasan wisata seperti Ancol harus disertai dengan kemudahan akses, inovasi atraksi, dan pemanfaatan teknologi.
Menanggapi langkah ini, Ketua Umum Jaringan Masyarakat Madura Jakarta (JAMMA), Edi Homaidi, menyampaikan dukungan sekaligus masukan agar revitalisasi Ancol tidak sekadar berwajah baru, tetapi juga membuka peluang ekonomi baru bagi warga. “Kami berharap revitalisasi ini tidak berhenti pada estetika, tapi juga menjadi ruang ekonomi rakyat. UMKM, seniman lokal, komunitas budaya harus diberikan ruang dan akses,” ujarnya, Senin (28/7/2025) di Jakarta.
Edi menambahkan, generasi muda Madura di Jakarta juga menantikan hadirnya ruang publik yang ramah, kreatif, dan relevan. “Selama ini banyak dari mereka tidak melihat Ancol sebagai tempat nongkrong atau berekspresi. Kalau ke depan bisa berubah, itu akan sangat baik untuk rekreasi sekaligus ruang sosial yang sehat,” jelasnya.
Menurut JAMMA, integrasi antara pariwisata dan transportasi adalah langkah strategis yang tepat. Namun Edi mengingatkan, agar jembatan dan konektivitas digital ke Ancol juga dirancang untuk mendukung kegiatan komunitas dan pendidikan informal. “Boleh saja kita bangun jembatan fisik, tapi jangan lupa jembatan sosial dan partisipatif itu juga penting. Termasuk ruang belajar, event gratis, atau panggung terbuka bagi anak muda,” lanjutnya.
Pramono sendiri menekankan bahwa perubahan tidak harus menghapus sejarah Ancol sebagai ruang keluarga, melainkan memberi napas baru agar lebih relevan di tengah tuntutan zaman. Ia berharap Ancol kembali menjadi ikon rekreasi perkotaan yang mencerminkan semangat global Jakarta.
Edi Homaidi menyatakan JAMMA siap menjadi mitra sosial dalam proses pengawasan publik dan memastikan bahwa revitalisasi ini inklusif dan berkelanjutan. “Jakarta perlu ruang publik yang bisa menyatukan semua generasi. Kalau Ancol dibuka untuk energi baru tanpa meninggalkan yang lama, kami yakin ia akan hidup kembali,” tutupnya.





