Visioner.id Jakarta– Kartel bisnis smelter dituding menghalangi bangkitnya industri pertambangan bahkan bisa membunuh industri ini. Oleh karena itu, duet bos ESDM Jonan & Archandra diminta memonitor gerakan para pengusaha smelter agar jangan mengarah ke arah kartel.
Demikian disampaikan oleh Direktur Institut Garuda Nusantara Romadhon Jasn Direktur di Jakarta, Jumat (21/10/2016).
Menurut Romadhon, agar industri pertambangan bisa bangkit lebih cepat tentunya harus mendapatkan nilai ekonomis yang lebih baik dalam bisnisnya. Sekarang ini indeks harga-harga pertambangan sedang baik, tentunya menjadi momentum yang baik bagi pengusaha untuk bangkit.
“Logikanya, pengusaha nasional kita harusnya bisa mengambil kesempatan ekspor, karena harga di luar negeri sedang bagus-bagusnya,” kata Romadhon.
Sebenarnya pemerintah sudah melihat masalah ini, dan merespon dengan baik, makanya Menko Luhut memberikan sinyal untuk pemberlakuan relaksasi terhadap yang disesuaikan dengan jenis dan hitungan nilai ekspornya.
Sayangnya sebanyak 21 perusahaan pemurnian mineral atau perusahaan smelter yang tergabung dalam Asosiasi Perusahaan Industri Pengolahan dan Pemurnian Indonesia (AP3I) menentang keras rencana pemerintah untuk melonggarkan ekspor mineral mentah (ore).
Oleh sebab itu, Romadhon meminta Duet Jonan dan Arcandra untuk menyelidiki motivasi penolakan keras para pengusaha smelter tersebut terkait dengan rencana pemerintah yang akan memberikan relaksasi ekspor mineral mentah (ore) maupun ekspor mineral hasil pengolahan alias konsentrat.
“Jangan sampai perusahaan-perusahaan smelter itu malah menjadi kartel yang berpotensi menghilangkan peluang industri pertambangan nasional untuk bangkit,” katanya. (Vis/Ab)






