Jakarta, 1 September 2026 – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) menunjukkan pergerakan yang dinamis pada awal perdagangan Selasa (1/9/2026) pagi. Setelah sempat terpeleset ke level Rp17.702 per dolar AS, rupiah berhasil bangkit dan ditutup menguat.
Mengacu pada data Bloomberg, rupiah dibuka di level Rp17.715 per dolar AS, melemah tipis 0,02 persen dibandingkan penutupan Senin (31/8) yang berada di angka Rp17.712. Namun, mengacu pada data Refinitiv, rupiah justru terpantau menguat 0,05 persen ke posisi Rp17.702 per dolar AS.
Analisis Pergerakan Rupiah
Pengamat pasar uang dan mata uang, Ibrahim Assuaibi, menilai penguatan rupiah disebabkan oleh pelemahan indeks dolar AS (DXY) yang turun di bawah level 100. Pelemahan ini terjadi setelah Presiden AS Donald Trump menyatakan tidak lagi mengancam tarif baru terhadap China.
“Dolar masih tertekan karena optimisme terhadap penurunan suku bunga The Fed,” kata Ibrahim.
Faktor Global dan Sentimen Pasar
Selain pelemahan dolar, harga minyak yang turun juga menjadi sentimen positif bagi rupiah. Turunnya harga minyak meningkatkan kepercayaan pasar terhadap stabilitas ekonomi global.
Analis Bank Woori Saudara, Rully Nova, menambahkan bahwa pasar cenderung wait and see menunggu data ekonomi AS, seperti Nonfarm Payrolls dan data tingkat pengangguran yang akan dirilis pekan ini.
“Rupiah mungkin diperdagangkan mixed dengan kecenderungan menguat karena indeks dolar yang masih tertekan menjelang rilis data manufaktur AS,” ujarnya.
Proyeksi Rupiah Pekan Ini
Rully memproyeksikan rupiah akan bergerak dalam rentang Rp17.650 hingga Rp17.750 per dolar AS sepanjang pekan ini. Penguatan rupiah akan sangat bergantung pada data ekonomi yang akan dirilis dan kebijakan moneter AS ke depan.
Secara keseluruhan, pergerakan rupiah pada hari ini menunjukkan adanya upaya pemulihan di tengah tekanan eksternal. Meski sempat terpeleset, rupiah berhasil menunjukkan ketahanannya dan ditutup menguat, memberikan sinyal positif bagi pasar keuangan Indonesia.






