
BANTEN – Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mencatat penyakit kulit dan gangguan pencernaan masih menjadi keluhan kesehatan yang paling banyak dialami masyarakat Baduy.
Temuan tersebut diperoleh saat kunjungan Sekretaris Jenderal Kemenkes, Kunta Wibawa Dasa Nugraha, ke wilayah Baduy, Kabupaten Lebak, belum lama ini.
Dalam kunjungannya, Kunta menyebut keluhan yang disampaikan warga umumnya berkaitan dengan gatal-gatal pada kulit serta gangguan pencernaan seperti diare. Keluhan tersebut dinilai cukup dominan berdasarkan hasil dialog langsung dengan masyarakat setempat.
“Kalau saya tadi tanya-tanya, yang sebagian besar itu gatal, sama pencernaan seperti mencret atau diare,” ujar Kunta dalam keterangan tertulis, dikutip Jumat (2/1).
Menurut Kunta, kondisi kesehatan tersebut tidak terlepas dari keterbatasan akses air bersih dan sanitasi di wilayah Baduy.
Faktor lingkungan masih menjadi tantangan utama dalam menjaga kesehatan masyarakat adat, terutama dalam pemenuhan kebutuhan dasar sehari-hari.
Sebagai langkah penanganan, Kemenkes menyalurkan obat-obatan dasar yang umum dibutuhkan masyarakat Baduy.
Obat tersebut disesuaikan dengan kondisi kesehatan warga dan penyakit yang paling banyak dikeluhkan.
“Biasanya obat-obatan yang sederhana, seperti untuk panas, sakit perut, gatal-gatal, kudis,” kata Kunta.
Selain memberikan pengobatan, Kemenkes juga melakukan edukasi kesehatan kepada masyarakat. Edukasi tersebut difokuskan pada penerapan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) sebagai upaya pencegahan penyakit.
Kunta menjelaskan, edukasi yang diberikan mencakup pentingnya kebiasaan mencuci tangan serta pengolahan makanan dan minuman yang aman agar terhindar dari penyakit berbasis lingkungan.
“Upaya-upaya sederhana ini penting supaya mereka mendapatkan makanan dan minuman yang lebih bersih,” tuturnya.
Kemenkes menegaskan komitmennya untuk terus mendukung peningkatan kesehatan masyarakat adat melalui pelayanan kesehatan, penyediaan obat-obatan, serta edukasi yang disesuaikan dengan kondisi sosial dan lingkungan setempat.



