JAKARTA – Pertamina (Persero) terus mengejar target program transisi energi meski sektor energi mengalami tiga guncangan atau triple shock selama pandemi covid-19. Ini dilakukan Pertamina lewat pembentukan enam subholding yang akan mengurus bisnis perseroan dari hulu hingga hilir.
Direktur Gagas Nusantara, Romadhon dalam kesempatan diskusi bertajuk transformasi bisnis Pertamina, melihat perusahaan plat merah BUMN ini mengalami penurunan penjualan bisnis perseroan yang signifikan sebesar 25% secara keseluruhan. Lalu, arus kas operasi perseroan dipengaruhi fluktuasi nilai tukar rupiah.
“Kita harus akui Pertamina sudah melakukan efisiensi bisnis dan dibantu pembentukan enam subholding Pertamina. Jadi, pandemi ini perlunya saling memahami dan masyarakat untuk mendukung upaya perusahaan negara ini dengan bentuk akselerasi transformasi Pertamina lebih baik,” katanya saat zoomeeting Gagas Nusantara, Senin (31/01/22).
Pertamina kita akui bersama karna menjadi andalan dalam upaya peningkatan produksi minyak bumi dalam negeri untuk target satu juta barel minyak per hari pada 2030.
Menurut Romadhon, semoga Pertamina terus meningkatkan pelayanan publik dan membangun ekosistem supaya Pertamina bisa bersaing dan mendorong value added. Sejauh ini Pertamina berjalan sesuai dengan 5 Key Performance Indicator (KIP) yang ditetapkan Kementerian BUMN.
Kelima indikator itu antara lain, menyeimbangkan antara korporasi dan pelayanan publik, kembali kepada core business dan menjadi excellent, inovasi digital dan R&D untuk menjadikan Pertamina Technology Company, dan transformasi Human Capital.
“Pertamina menjadi perusahaan terdepan dalam melakukan transformasi yang kita inginkan. Saya berharap, BUMN lain melakukan percepatan seperti yang kita inginkan,” ujarnya.
Pasalnya, energi tidak bisa disubsitusi. Keberadaannya menjadi suatu keniscayaan sebagai salah satu instrument membangun ekonomi bangsa. Bayangkan, bila ketahanan energi kita sangat rapuh, bukan tidak mungkin pembangunan akan terseok-seok. Bila fenomena ini menjadi suatu kenyataan, maka bangsa ini sangat mudah dikendalikan oleh bangsa-bangsa lain di dunia yang mempunyai akses energi yang lebih besar.
“Harapan besar tentunya untuk kemaslahatan orang banyak. Apalagi diskusi ini adalah bentuk kontrol terhadap BUMN agar terus menjaga performanya. Karna semua kita bisa pantau dan memberikan masukan serta kritikan agar tercapainya tujuan,” tutupnya.
Kontributor : Yogi






