Indonesia Visioner
  • BERANDA
  • PERISTIWA
  • POLHUM
  • EKONOMI
  • VIDEO
  • ENTERTAINMENT
  • LUAR NEGERI
  • LIPUTAN DISKUSI
  • LIFESTYLE
  • RESENSI
  • SPORT
  • OPINI
  • INDEKS
No Result
View All Result
Indonesia Visioner
No Result
View All Result

Airlangga Hartarto Positif Terpilih Lagi

by Visioner Indonesia
November 15, 2019
in Opini
Reading Time: 3min read
0
SHARES
21
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter
Igor Dirgantara, Dosen Fisip Universitas Jayabaya, Director SPIN (Survey & Polling Indonesia)

Jelang pelaksanaan Munas Golkar Desember 2019, Ketua Umum Partai Golkar Airlangga Hartarto mengatakan dalam pidato Rapimnas kemarin bahwa pemilihan calon ketua umum secara aklamasi bukanlah hal yang baru dan tabu. Menurut Airlangga pemilihan ketum secara aklamasi tidak perlu menjadi polemik. Airlangga mencontohkan Munas dengan menghasilkan ketua umum secara aklamasi yang terjadi pada 2014. Saat itu, Aburizal Bakrie (ARB) terpilih sebagai ketua umum secara aklamasi.

Kurang tepat jika lalu ada yang menyatakan bahwa mekanisme aklamasi pemilihan ketum Golkar tidak demokratis dan berpotensi memecah Golkar seperti dulu di 2014, yang memilih ARB secara aklamasi. Pasca Munas Golkar 2014, Golkar terpecah menjadi dua kubu, yaitu kubu ARB (Munas Bali) dan kubu Agung Laksono (Munas Ancol).

Pertama, jika voting merupakan mekanisme demokrasi, begitu juga dengan opsi aklamasi. Dari rekam jejak munas Golkar, voting justru lebih sering membuat kader Golkar yang kalah potensi terpecah lalu membuat partai baru. Sebut Misalnya kekalahan Surya Paloh dari ARB saat Munas Golkar 2009 di Riau yang melahirkan partai Nasde. Begitu juga dengan berdirinya PKPI dan Partai Berkarya. Sebelumnya juga sudah lahir Gerindra dan Hanura. Opsi voting dalam gelaran Munas Golkar jauh lebih besar intrik dan manuver yang akan di maksimalkan kandidat dan tim suksesnya, ketimbang musyawarah untuk mufakat.

Kedua, perpecahan Golkar pasca Munas 2014 terjadi karena pilihan dukungan capres-cawapres pada Pemilu 2014. Sementara dalam Pemilu 2019 lalu jajaran Golkar di bawah kepemimpinan Airlangga Hartarto solid mendukung dua periode pemerintahan Jokowi. Ini perbedaan mendasarnya. Seperti diketahui, Golkar tak bisa jauh dari kekuasaan pemerintah terpilih. Jadi opsi aklamasi untuk mendukung kembali Airlangga menjadi Ketua Umum Golkar diprediksi tidak berpotensi memecah belah Golkar seperti dulu. Tetapi tentu aklamasi atau tidaknya pemilihan Ketum tergantung pada dinamika Munas Golkar tanggal 4-6 Desember mendatang.

Ketiga, trend parpol utama pengusung Jokowi-Ma’ruf Amin juga memilih kembali ketumnya secara bulat, seperti Muhaimin Iskandar (PKB), Megawati Soekarno Putri (PDIP), dan Surya Paloh (Nasdem). Bahkan Gerindra yang belakangan berbalik arah bergabung ke dalam pemerintahan Jokowi pun, kembali memilih Prabowo Subianto sebagai Ketumnya. Ketua Dewan Pembina partai Golkar Aburizal Bakrie (ARB) juga mendorong Munas Golkar nanti sebaiknya mencapai musyawarah mufakat. Menurut ARB, lebih baik tenaga partai disimpan untuk berkompetisi dengan pihak lain di luar partai, terutama jelang Pilkada tahun depan atau nanti pada Pemilu 2024.

Keempat, Apabila misalnya terjadi dead lock saat Munas dan voting adalah jalan terakhir yang memungkinkan dalam agenda memilih ketum Golkar periode 2019-2024, maka petahana Airlangga Hartarto pun berpotensi besar menang lagi. Dalam voting, penentu kemenangan berada di pemilik suara sah, yaitu 34 Dewan Pimpinan Daerah tingkat I (provinsi), 514 DPD tingkat II (kabupaten/kota), 1 suara DPP, 1 suara Dewan Pembina, dan 10 ormas sayap partai. Sampai saat ini, DPD tingkat provinsi konsisten mendukung Airlangga Hartarto. Suara DPD tingkat provinsi merepresentasikan suara DPD kabupaten/kota. Artinya, sekalipun suara DPD II bisa digoyang misalnya terjadi voting, namun hasilnya diprediksi tidak akan signifikan, kecuali jika pihak istana yang melakukannya, seperti saat Setnov terpilih sebagai ketum Golkar di Munas Bali 2016. Hasil Survei SPIN (Survey & Polling Indonesia) yang tidak dipublikasikan ke publik menyatakan bahwa jika terjadi voting, maka 85 persen Airlangga Hartarto berpotensi terpilih kembali menjadi Ketum Golkar dari aspek PDLT (Prestasi, Dedikasi, Loyalitas, dan Tidak Tercela).

Kelima, karena khittah Golkar selalu berada di lingkaran kekuasaan, maka restu dari penguasa terhadap caketum Golkar dianggap signifikan. Idealnya pihak istana harus bersikap netral. Tetapi fakta bahwa Presiden Jokowi sangat memuji kepemimpinan Airlangga dalam acara HUT Golkar ke-55 tanggal 6 November 2019 adalah sinyalemen positif dari istana bagi Menko Perekonomian untuk melanjutkan lagi kepemimpinannya di Golkar. Pujian Jokowi tersebut punya makna denotatif, bukan konotatif.
Selain itu, sentilan Airlangga kepada Bamsoet dalam Pidato di Rapimnas Golkar 14 November kemarin di Hotel Sultan juga akan menjadi tolak ukur pemegang hak suara dalam memilih Ketum Golkar jika terjadi voting. Etika dan inyegritas adalah unsur penting para pemegang hak suara menentukan pilihan terhadap ketua umumnya. Komitmen sama ketum saja di langgar, apalagi sama anggota, begitu asumsinya.

Jadi memang buat apa menguras energi melakukan voting, jika musyawarah mufakat (aklamasi) bisa dilakukan. Toh Airlangga Hartarto positif akan kembali terpilih sebagai Ketum Golkar di Munas 4-6 Desember 2019, baik itu secara aklamasi, maupun lewat voting.

Oleh: Igor Dirgantara, Dosen Fisip Universitas Jayabaya, Director SPIN (Survey & Polling Indonesia)

Previous Post

DPR Akan Bentuk Pansus BPJS Kesehatan

Next Post

Nahkoda Baru LAPMI HMI Cabang Malang, Siap Berikan Kontribusi Nyata untuk Dunia Pers

Related Posts

Pondasi Sistem Logistik Nasional: Refleksi Pengabdian dan Estetika Konstitusi
Opini

Pondasi Sistem Logistik Nasional: Refleksi Pengabdian dan Estetika Konstitusi

April 26, 2026
BGN Kaji Efesiensi Anggaran
Artikel

Audit Triliunan dan Rapuhnya Negara: Mengapa Kebocoran Fiskal Terus Berulang?

April 23, 2026
Mengapa Polri Butuh Lebih dari Sekadar Seremoni Hoegeng Awards?
Artikel

Mengapa Polri Butuh Lebih dari Sekadar Seremoni Hoegeng Awards?

April 6, 2026
Default

Menjaga Marwah Bhayangkara: Mengapa Independensi Polri Adalah Harga Mati

Januari 30, 2026
Opini

Menagih Janji di Balik Sepatu Bot Pramono: Mengapa Jakarta 2026 Masih Menjadi Kolam Raksasa?

Januari 24, 2026
Opini

Lumbung Pangan di Balik Jeruji: Saat Penjara Menyuplai Piring Rakyat

Januari 19, 2026

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

TERKINI

Kasus Dugaan Korupsi BURT DPRK Bintuni Masuk Tahap Penyelidikan

Sikat Sarang Narkoba! Bareskrim Apresiasi Langkah Tegas Pemprov Jakarta Cabut Izin White Rabbit

Simak Bukti Kebijakan di Balik Swasembada & Kesejahteraan Petani

Waspada Penawaran Haji Tanpa Antre Ilegal, Jangan Tergiur

Alasan Prabowo Hadiri Resepsi Pernikahan El Rumi & Syifa Hadju

Kalender Ekonomi: Inflasi Meningkat, Pertumbuhan Melambat

TERPOPULER

Kasus Dugaan Korupsi BURT DPRK Bintuni Masuk Tahap Penyelidikan

Sikat Sarang Narkoba! Bareskrim Apresiasi Langkah Tegas Pemprov Jakarta Cabut Izin White Rabbit

Simak Bukti Kebijakan di Balik Swasembada & Kesejahteraan Petani

Waspada Penawaran Haji Tanpa Antre Ilegal, Jangan Tergiur

Alasan Prabowo Hadiri Resepsi Pernikahan El Rumi & Syifa Hadju

Kalender Ekonomi: Inflasi Meningkat, Pertumbuhan Melambat

  • About
  • Redaksi
  • Marketing & Advertising
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Email
  • Login
No Result
View All Result
  • BERANDA
  • PERISTIWA
  • POLHUM
  • EKONOMI
  • VIDEO
  • ENTERTAINMENT
  • LUAR NEGERI
  • LIPUTAN DISKUSI
  • LIFESTYLE
  • RESENSI
  • SPORT
  • OPINI
  • INDEKS

Indonesia Visioner - All Rights Reserved