Jombang, 29 Agustus 2026 – Proses pemilihan Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) periode 2026-2030 mengalami jalan buntu setelah tim formatur yang dibentuk untuk menyerap aspirasi cabang dan wilayah gagal mencapai kesepakatan. Akhirnya, keputusan akan dibawa ke Sidang Pleno Muktamar ke-35 NU pada Senin (31/8/2026) .
Ketua Tanfidziyah PBNU, KH. Nusron Wahid, menyatakan bahwa tim formatur yang terdiri dari sembilan orang telah bekerja sesuai amanat muktamar. Namun, karena tidak ada kata sepakat, mekanisme harus dilanjutkan ke sidang pleno .
“Insya Allah, hari Senin akan dilanjutkan ke sidang pleno. Berdasarkan permufakatan, tidak ada kesepakatan dari tim formatur. Maka, keputusan diambil melalui sidang pleno pemilihan,” ujar Nusron di sela-sela Muktamar NU, Sabtu (29/8/2026) .
Tim formatur terdiri dari tiga unsur, yaitu tiga perwakilan dari tim penjaringan dan penyeleksian (jaringan) di setiap komisi, tiga perwakilan dari tim kelayakan dan kepatutan (kepatutan), serta tiga perwakilan dari tim formatur yang dibentuk pimpinan sidang komisi. Mereka telah bekerja keras menyerap aspirasi dari 556 cabang dan 33 wilayah yang hadir .
Dua Nama Kuat
Dari hasil penjaringan, dua nama muncul sebagai kandidat terkuat: KH. Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya) yang merupakan petahana, dan KH. Sahal Mahfudz, pengasuh Pondok Pesantren Al-Munawwir, Krapyak, Yogyakarta. Kedua tokoh ini sama-sama memiliki dukungan kuat dari berbagai kalangan di internal NU.
Selain dua nama tersebut, nama-nama lain seperti KH. Miftachul Akhyar, KH. Said Aqil Siroj, dan KH. Marzuki Mustamar juga sempat muncul, namun tidak sekuat dua kandidat utama.
Mekanisme Sidang Pleno
Pada sidang pleno, para peserta muktamar dari cabang dan wilayah akan melakukan pemilihan secara langsung untuk menentukan ketua umum. Mekanisme ini menjadi jalan keluar setelah tim formatur gagal mencapai konsensus.
Panitia Muktamar memastikan bahwa sidang pleno akan berlangsung demokratis dan tertib. Seluruh peserta muktamar yang memiliki hak suara akan memberikan aspirasi mereka untuk menentukan pemimpin NU ke depan.
Dinamika Muktamar
Muktamar ke-35 NU berlangsung di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, sejak 27 Agustus dan akan berakhir pada 31 Agustus. Suasana di pesantren bersejarah ini terasa semarak dengan kehadiran ribuan kiai, ulama, dan pengurus NU dari seluruh Indonesia.
Selain pemilihan ketua umum, muktamar juga membahas sejumlah isu strategis, termasuk peran NU dalam menghadapi tantangan kebangsaan dan keumatan ke depan. Keputusan yang diambil dalam muktamar ini diharapkan dapat memperkuat posisi NU sebagai organisasi Islam terbesar di Indonesia.






