Senator I Gede Pasek Suardika mengatakan pola kepemimpinan Susilo Bambang Yudhoyono di kepengurusan Partai Demokrat sama sekali tidak mencerminkan situasi yang demokratis. “Ketika AU (Anas Urbaningrum) menang, is gunakan pola winning for all dengan merasakan kemenangan untuk semua sehingga yang kalah pun dirangkul di PHT (pengurus harian terbatas). SBY tampaknya beda. SBY memilih winning take all. Begitu menang semua diambil dalam kendali dirinya. Kekuatan penyeimbang diharamkan di dalam,” tulis Gede Pasek di jejaring sosial twitter miliknya.
Sebagian pengamat mengatakan pola kepengurusan partai Demokrat yang dibentuk SBY cenderung ke arah patronisme-klien. Pola ini bisa dilihat dari kepengurusan Partai Demokrat yang dibentuk SBY setelah terpilih lagi sebagai Ketua Umum periode 2015-2020. “Patron di sini kan Ketua Umum, dia punya kekuasaan, punya materi, kedudukan, dan kasih sayang. Sementara, klien itu kan harus punya kesetiaan, integritas, dan loyalitas,” kata Lely Arrianie Napitupulu, pengamat komunikasi politik dari Universitas Bengkulu seperti dilansir laman Republika.
Kepengurusan baru SBY diisi oleh orang-orang yang ‘dekat’ dengannya. Pola patronisme-klien ini akan berakhir jika ‘kaki tangan’ si patron sudah tidak lagi memperlihatkan loyalitas kepadanya. Lely mengatakan, Gede Pasek merupakan politisi Partai Demokrat yang terkena gusur akibat pola patronisme ini. “Itu yang terjadi pada Gede Pasek. Mungkin integritasnya ada di Demokrat tapi loyalitasnya tidak ada lagi. Terutama bukan loyalitas kepada partai melainkan loyalitas kepada ketua umumnya,” lanjut Lely.
Gede Pasek telah dianggap sebagai sosok yang tidak loyal terhadap patronnya, dalam hal ini ketua umum. Sehingga dengan otoritasnya sebagai pimpinan partai, SBY bisa menyingkirkan Gede Pasek karena tidak bisa menyatu dengan visinya.
Kepengurusan Partai Demokrat ala SBY Anti Penyeimbang
Di sisi lain, Gede Pasek mengkritisi pola kepengurusan Partai Demokrat yang dibangun SBY. Ia menganggap SBY anti terhadap kekuatan penyeimbang di partai. “Begitu menang semua diambil dalam kendali dirinya. Kekuatan penyeimbang diharamkan di dalam,” cuit @g_paseksuardika di twitter.
Gede Pasek menilai SBY trauma merekrut orang dengan pola akomodatif, sehingga dengan pola saat ini, kekuatan Demokrat bisa berpusat di Cikeas sepenuhnya, bukan terpisah antara Cikeas dan Duren Sawit seperti yang terjadi di masa Anas Urbaningrum. “Pilihan SBY bisa jadi karena trauma dengan pola akomodatif ala AU (Anas Urbaningrum) justru jadi pintu masuk rontoknya AU karena niat merangkul malah pintu mendongkel,” lanjut Pasek.
Pola patronisme yang cenderung tidak akomodatif dan anti pada kekuatan penyeimbang ini diwujudkan SBY dalam struktur kepengurusan sebagai berikut Sekjen Hinca Panjaitan, dan lima waketum yakni Syarifudin Hasan, Roy Suryo, Djoko Udjianto, Nurhayati Ali Assegaf, Cornel Simbolon hingga Djafar Hafsah. Semuanya kepengurusan partai Demokrat yang baru merupakan tokoh yang dekat dengan Cikeas.






