Menjalani tugas sebagai anggota DPR/MPR RI, Primus Yustisio menggelar sosialisasi empat pilar kebangsaan kepada siswa Pondok Pesantren Assyaafiyah Kp. Pondok Miri Rawakalong Gunung Sindur Bogor pada Jum’at, 4 September 2015. Peserta kegiatan yakni siswa, pengajar dan staf dari pondok pesantren tersebut.
Dalam sambutan Primus di tengah 150 peserta sosialisasi empat pilar itu , anggota komisi VI DPR RI ini menegaskan, bahwa UUD 1945 adalah landasan hukum bernegara Indonesia. Olehnya itu, segala tindak-tanduk sebagai warga Negara tetap berada dalam trayek UUD 1945 sebagai konstitusi Negara.
Ayah empat anak ini pun menjelaskan kepada para siswa MTs Assyafi’iyah dan wali murid, bahwa Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) sebagai bentuk negara dan Bhinneka Tunggal Ika sebagai semboyan Bangsa Indonesia, harus tetap kokoh dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
Karena itu, suami Jihan Fahira ini menekankan pentingnya menerapkan empat pilar kebangsaan dalam kehidupan sehari-hari. Terutama generasi muda/pelajar harus benar-benar faham dan memiliki kesadaran akan hal tersebut.
Menurut Primus mencintai tanah air tidak selalu harus diwujudkan dengan melakukan hal besar atau tindakan heroik seperti pada jaman penjajahan dulu. Contoh tindakan kecil untuk menerapkan nilai-nilai pancasila bisa dilakukan dalam kehidupan sehari-hari yaitu mentaati peraturan di jalan raya, misalnya dengan menggunakan helm, tidak menerobos saat lampu merah, dan mematuhi aturan sekolah, dan lain-lain.
Dengan mentaati aturan, kita akan merasakan manfaatnya secara langsung. Selain terhindar dari kecelakaan, akan memperoleh rasa nyaman dan aman dalam berlalu lintas.Termasuk bersikap jujur untuk tidak berkendara jika belum memiliki SIM.
Sikap jujur ini tidak kalah penting untuk ditanamkan dalam pribadi masing-masing. Jika terbiasa bersikap jujur, korupsi di negara ini lambat laut akan terkikis. Ketaatan dan kejujuran dari setiap tindakan kecil itu nantinya menjadi bekal dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
Pada para siswa, Primus menyatakan optimis kalau ilmu yang mereka pelajari di pondok pesantren akan menjadi bekal di masa depan. Bahwa ilmu agama yang didapatkan harus diamalkan secara utuh. “Islam, harus menjadi agama yang rahmatan lil alamin,” ungkapnya. Salah satu caranya yaitu dengan sikap toleransi dan memberi kebebasan terhadap pemeluk agama lain untuk menjalankan ibadahnya, demi menjaga keutuhan NKRI. Dengan demikian, berbagai tindakan kekerasan dalam bentuk konflik antar umat beragama bisa dihindari.
Primus juga berpesan agar guru-guru selalu memberikan teladan bagi muridnya. “Semoga lembaga pendidikan kita, mampu mencetak generasi-generasi unggul harapan bangsa, seperti yg dicita-citakan para pendiri bangsa, Kihajar Dewantara dan yang lainnya,” jelas Primus.
Di akhir paparannya, Primus berharap melalui sosialisasi 4 pilar ini para pemuda bisa lebih mencintai nilai-nilai budaya bangsa, di tengah gempuran budaya asing yang rentan mengikis semangat nasionalisme.






