Jakarta, IndonesiaVisioner-. Kematian terduga teroris bernama Siyono dalam keadaan tidak wajar menuai protes dari berbagai kalangan. Kali ini datang dari Pengurus Besar Himpunan Mahasiswa Islam (PB HMI).
Idris Pua Bhuku, Ketua Bidang Pemberdayaan Ummat (PU) turut mengungkapkan kekecewaannya atas tindakan densus 88 yang menghilangkan nyawa manusia tanpa melalui proses pengadilan.
Tindakan terorisme memang mesti ditangani serius oleh pemerintah, khususnya Densus 88. Namun dalam proses penangkapan atau penyelidikan harus tetap menjaga hak-hak konstitusional terduga teroris. Tegas Idris
“Densus 88 tidak bisa semena-mena terhadap terduga teroris, contohnya kematian Siyono, saat ditangkap masih dalam keadaan sehat wala’fiat, tiba-tiba diketahui sudah meninggal dunia, penjelasan polisi atas kematianpun terasa ganjal, ini sebenarnya ada kesalahan prosedur” kesal Idris di Kompleks Senayan Jakarta. (29/03/2016)
Saat ini anggaran densus 88 sudah naik menjadi 1,9 T untuk kenaikan gaji 400 anggota, peremajaan alat, penguatan intelijen dan lainnya. semestinya kenikan itu harus berbanding lurus dengan kinerja densus 88. Jika anggaran yang cukup besar ini tidak juga menunjang kinerja dan profesionalitas anggota di lapangan, Densus harus diaudit sementara waktu dan kerja-kerja densus diberikan kepada institusi lain.
“Hasil audit nanti harus dibeberkan kepada publik agar semua tau apakah benar ada pelanggaran HAM atau tidak?” tutupnya. ( MR. Vis)






