Jakarta, IndonesiaVisioner- Pertamina sampai saat ini dinilai belum bisa merealisasikan pembangunan kilang minyak.
Direktur Lembaga Pemantau BUMN Romadhon Jasn mengatakan, dibubarkannya Petral dianggap belum dapat membuat kinerja Pertamina membaik.
“1,5 tahun direksi Pertamina diangkat, kinerjanya sangat mengecewakan. Walaupun Petral sudah dibubarkan oleh pemerintah dan mampu melakukan penghematan Rp 8 trilyun, namun hinggai kini masih tetap mengimpor minyak dari luar,” ucap Romadhon, di Jakarta, Senin (11/4).
Romadhon menilai, MoU yang dilakukan Presiden Jokowi dengan negara lain untuk pembuatan kilang minyak dianggap sia-sia. “Presiden telah membuat MoU dengan Negara peminat kilang, salah satunya Aramco dan sudah setuju. Namun tingkat realisasinya sejak mou tersebut sampai sekrang belum dilaksanakan,” katanya.
Pertamina harus serius membangun kilang Minyak agar pemasukan Negara bisa bertambah. “Untuk itu, Pertamina harus segera membangun kilang. Apabila sampai waktu yang sekian lama masih bergantung sama import, hal itu sangat membahayakan negara dikemudian hari,” tegasnya.
“Ketergantungan import minyak sangat berbahaya kedepannya apalagi melihat situasi global dimana negara-negara di dunia sedang membangun infrastruktur ketahanan energi,” tandasnya. (Mr/vis)






