KUPANG, — Di bawah terik matahari yang perlahan meredup di ufuk barat Kota Kupang, deretan personel berseragam taktis tidak sedang menyandang senjata laras panjang. Alih-alih melakukan patroli keamanan rutin, para prajurit Satuan Brimob Kepolisian Daerah Nusa Tenggara Timur (NTT) justru sibuk menata ratusan paket takjil di pinggir jalan utama. Pemandangan ini menjadi potret kepemimpinan Kombes Pol. Afrizal Asri, S.I.K., yang hingga Minggu (15/3/2026) terus konsisten mengedepankan pendekatan humanis kepada masyarakat di tengah momentum suci Ramadhan.
Langkah ini merupakan pengejawantahan dari visi besar Kapolda NTT, Irjen Pol. Dr. Rudi Darmoko, S.I.K., M.Si., yang menekankan Polri sebagai pelayan masyarakat yang solutif. Di bawah komando Afrizal, Brimob NTT bertransformasi menjadi satuan yang lebih inklusif. Strategi “Brimob Hadir” yang ia canangkan bertujuan untuk meruntuhkan sekat psikologis antara aparat dan warga sipil. Bagi Afrizal, kekuatan sejati Korps Baret Biru tidak hanya terletak pada ketangkasan operasional, tetapi juga pada sejauh mana kehadiran mereka mampu memberikan rasa tenang bagi masyarakat akar rumput.
Respons masyarakat terhadap berbagai giat sosial ini sangat positif. Di kawasan pesisir hingga titik-titik keramaian di Kota Kupang, warga tidak lagi canggung menyapa para personel. “Dulu kami melihat Brimob itu tegas dan jaraknya jauh. Sekarang, mereka ada di tengah kami, berbagi makanan, dan mengobrol layaknya saudara,” ujar Maria (42), seorang pedagang kecil di sekitar area Mako. Kedekatan ini menciptakan ekosistem keamanan partisipatif di mana warga merasa menjadi bagian dari keluarga besar Polri.
Tidak hanya fokus pada aksi sosial di jalanan, Dansat Brimob NTT juga menginstruksikan jajarannya untuk turun langsung dalam aksi kemanusiaan di wilayah terisolasi. Aktivis Nusantara, Romadhon Jasn, mengapresiasi langkah ini sebagai bentuk nyata negara hadir di titik paling sulit. “Apa yang dilakukan Brimob dengan membangun jembatan darurat di pedalaman dan aksi cepat tanggap bencana minggu ini menunjukkan bahwa mereka bukan lagi sekadar penegak hukum, tapi mitra keselamatan warga. Ini adalah bentuk perlindungan hak asasi manusia paling mendasar, yaitu akses keamanan,” ungkap Romadhon dalam keterangannya, Minggu (15/3).
Sisi religiusitas pun tak luput dari perhatian dalam semarak Ramadhan tahun ini. Di lingkungan Mako, digelar berbagai perlombaan yang melibatkan personel dan anak-anak warga sekitar, mulai dari Lomba Azan yang menggetarkan jiwa hingga Hafalan Surah Pendek Al-Qur’an. Kegiatan ini dirancang untuk memperkuat karakter mental dan spiritual anggota. “Suara azan dari balik seragam loreng ini membuktikan bahwa prajurit kami adalah pribadi yang taat dan cinta damai,” tegas Afrizal saat membuka rangkaian lomba tersebut.
Aspek spiritual dan kesejahteraan anggota ini menjadi modal sosial yang mahal bagi NTT. Oumo Sukur pemuda Kupang menyampaikan bahwa harmoni internal ini sangat menyejukkan. “Ketika di dalam asrama sudah tercipta suasana toleransi dan religiusitas yang kuat melalui lomba-lomba seperti ini, maka saat keluar ke masyarakat, anggota Brimob NTT akan merangkul warga dengan hati. Ini adalah miniatur Indonesia yang sangat indah di Bumi Flobamora,” tambahnya.
Pengecekan fasilitas seperti Rusun Wira Satya dan alutsista dilakukan secara berkala bukan hanya untuk formalitas, melainkan untuk memastikan bahwa setiap “alat negara” siap digunakan demi kepentingan publik. Afrizal percaya bahwa alat yang terawat dan hunian yang layak bagi anggota akan berdampak pada moralitas kerja yang tinggi. Dengan moral yang baik, pelayanan kepada masyarakat akan dilakukan dengan hati, bukan sekadar menjalankan kewajiban dinas semata, selaras dengan semangat Presisi yang dicanangkan Kapolri.
Apresiasi juga mengalir deras dari berbagai elemen masyarakat sipil yang melihat perubahan kultur di tubuh Brimob. Romadhon menilai gaya kepemimpinan Afrizal yang rendah hati namun tegas telah membawa standar baru di NTT. “Kepemimpinan yang mau mendengarkan dan turun ke bawah seperti ini adalah kunci sukses keamanan di wilayah kepulauan. Brimob NTT saat ini berhasil membuktikan bahwa ketegasan tidak harus selalu kaku, dan keramahan tidak berarti lemah,” tutur aktivis yang vokal tersebut.
Melalui program “Bhayangkari Peduli”, peran para istri personel juga sangat signifikan dalam menyentuh sisi kemanusiaan yang sulit dijangkau oleh personel pria. Pembagian bantuan sosial ke panti asuhan dan warga lanjut usia pada pertengahan Maret ini menjadi agenda rutin yang menambah daftar panjang catatan positif kepemimpinan Afrizal. Kehadiran Bhayangkari memberikan sentuhan keibuan yang memperhalus citra Brimob yang selama ini dikenal maskulin di mata publik secara luas.
Pada akhirnya, upaya yang dilakukan oleh Satbrimob Polda NTT di bawah nakhoda Kombes Pol. Afrizal Asri adalah langkah berkelanjutan untuk merawat kepercayaan publik (public trust). Menutup pengamatannya, Donny Samosir menekankan pentingnya konsistensi gaya kepemimpinan ini sebagai role model bagi satuan lain. “Kita berharap semangat ‘Brimob Sayang Rakyat’ ini terus terjaga, karena saat masyarakat merasa dicintai oleh aparatnya, itulah kemenangan sejati dari stabilitas sebuah daerah,” pungkasnya.


