
Jakarta,- Pemerintah Provinsi DKI Jakarta tengah mempersiapkan langkah besar untuk memperkuat identitas sejarah ibu kota. Gubernur Pramono Anung mengumumkan rencana pembangunan patung Fatmawati di Taman Bendera Pusaka, sebuah ruang publik baru hasil penyatuan Taman Langsat, Taman Ayodia, dan Taman Leuser di Kebayoran Baru. Patung ini akan menggambarkan Fatmawati sedang merajut Bendera Merah Putih—simbol perjuangan dan persatuan bangsa.
Rencana ini mendapat momentum saat Ketua Umum PDI Perjuangan, Megawati Soekarnoputri, hadir langsung pada acara peresmian Taman Bendera Pusaka, Jumat (8/8). Megawati mengusulkan agar pedestal patung dibuat lebih tinggi demi keindahan dan daya pandang publik. Usulan tersebut langsung disetujui Pramono, menegaskan bahwa monumen ini tidak hanya untuk estetika, tetapi juga sebagai media edukasi sejarah yang menghidupkan semangat nasionalisme.
Jaringan Masyarakat Madura (JAMMA) Jakarta, melalui Ketua Umum Edi Homaidi mengapresiasi inisiatif ini sebagai langkah strategis mengangkat kembali peran tokoh perempuan dalam sejarah bangsa. Menurut Edi, penghargaan terhadap Fatmawati adalah bagian penting dari membangun Jakarta sebagai kota global yang tetap berpijak pada nilai dan identitas kebangsaan. “Monumen ini bukan sekadar patung, tetapi pengingat bahwa kemerdekaan lahir dari kerja keras, ketulusan, dan pengorbanan,” tegasnya.
Gubernur Pramono menegaskan, pembangunan patung Fatmawati akan dilakukan dengan melibatkan seniman dan pakar sejarah. Posisi patung yang berada di tengah kolam akan dipadukan dengan lanskap taman yang asri, sehingga menciptakan ruang publik yang ramah keluarga dan menarik bagi wisatawan. Pemprov DKI juga berencana melengkapi taman dengan fasilitas rekreasi, seperti lapangan padel gratis, agar pengunjung dapat menikmati pengalaman yang beragam.
Edi Homaidi memandang kolaborasi antara pemerintah, seniman, dan komunitas adalah kunci agar patung ini menjadi karya yang memadukan nilai sejarah dan fungsi publik. Ia juga menekankan perlunya proses transparan dalam penggunaan anggaran, serta melibatkan masyarakat dalam tahap perencanaan. “Jakarta bisa menjadi teladan dalam merawat sejarah sekaligus mengembangkan ruang publik yang inklusif,” tambahnya.
Taman Bendera Pusaka diproyeksikan menjadi destinasi wisata sejarah yang baru di Jakarta. Dengan ikon patung Fatmawati, taman ini akan menjadi ruang belajar terbuka, tempat generasi muda memahami cerita di balik Bendera Pusaka yang dikibarkan pada 17 Agustus 1945 di Jalan Pegangsaan Timur No. 56. Pramono berharap taman ini dapat membangkitkan rasa bangga terhadap sejarah bangsa.
JAMMA juga mendorong agar Taman Bendera Pusaka tidak hanya menjadi tempat wisata pasif, tetapi aktif menyelenggarakan kegiatan edukasi, pameran budaya, hingga diskusi sejarah. Dengan begitu, taman akan hidup sepanjang tahun, menjadi pusat pertemuan lintas komunitas dan etnis di Jakarta.
Pembangunan patung Fatmawati ini menjadi bagian dari komitmen Pemprov DKI menjaga identitas Jakarta di tengah modernisasi. Langkah ini melengkapi upaya revitalisasi ruang publik, pembangunan infrastruktur transportasi, dan program pemberdayaan ekonomi warga yang telah berjalan. Pramono menyebut, semua kebijakan diarahkan agar Jakarta menjadi kota global yang tidak meninggalkan rakyatnya.
Edi Homaidi menyambut baik arah kebijakan tersebut dan menyatakan kesiapan JAMMA menjadi mitra strategis Pemprov dalam menjaga keseimbangan antara kemajuan kota dan pelestarian sejarah. “Jakarta akan dikenal bukan hanya karena gedung pencakar langitnya, tetapi karena penghormatannya pada sejarah dan keberagaman yang menjadi kekuatan bangsa,” tutupnya.





