Jakarta, 22 Agustus 2026 – Kondisi iklim investasi Indonesia saat ini dinilai berada pada titik terburuk sepanjang sejarah. Penilaian keras itu disampaikan Ketua Dewan Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (FEB UI), Prof. Mohamad Ikhsan.
Dari skala 1 sampai 10, Ikhsan hanya memberi nilai 2. Bahkan, ia menyebut kondisinya sebagai yang terburuk sepanjang pengamatannya terhadap persoalan investasi di Indonesia. “To be honest with all of you, berdasarkan pengamatan saya, ini adalah kondisi the worst, paling buruk, sepanjang observasi saya,” tegas Ikhsan dalam diskusi Suar Forum 2026 di BSD City, Jumat (21/8/2026) .
Penilaian itu ia sampaikan setelah puluhan tahun terlibat dalam persoalan ekonomi dan investasi lintas pemerintahan, mulai dari era Presiden Abdurrahman Wahid hingga pemerintahan sekarang .
Masalah Klasik yang Semakin Parah
Ikhsan menilai persoalan yang dihadapi dari satu pemerintahan ke pemerintahan lain relatif sama: bagaimana menekan biaya berusaha, membangun kepercayaan, dan membuat investor bersedia menanamkan modal. Namun, berdasarkan pengamatannya, kondisi sekarang justru mengalami kemunduran .
Ia mengakui penilaian ini dapat dipandang subjektif karena dirinya tidak berada dalam pemerintahan saat ini. “Kalau kemudian dikatakan saya bias karena tidak berada di dalam pemerintahan sekarang, okay, you’ve got it. Tetapi berdasarkan observasi saya, kondisinya bahkan lebih buruk dibandingkan beberapa periode pemerintahan sebelumnya,” ujar dia .
Ironi: Potensi Besar Tak Termanfaatkan
Ironisnya, penilaian buruk itu bukan karena Indonesia kekurangan potensi. Ikhsan justru mengakui Indonesia memiliki modal ekonomi yang sangat besar. Ia merujuk kajian Growth Commission sekitar 2008–2009 yang menempatkan Indonesia sebagai salah satu dari sekitar 13 negara di dunia yang mampu mempertahankan pertumbuhan tinggi dalam jangka panjang .
“Indonesia sangat potensial,” kata dia. Namun, potensi tersebut belum sepenuhnya diterjemahkan menjadi kinerja. “Potensinya ada, tetapi gap antara potensi dengan realisasinya makin besar” .
Persoalan Kredibilitas dan Kepercayaan
Menurut Ikhsan, salah satu persoalan mendasar terletak pada kepercayaan dan kredibilitas (trust and credibility). Kedua faktor tersebut merupakan modal penting untuk membuat investor berani mengambil keputusan jangka panjang .
Ia juga memberikan perhatian khusus terhadap kredibilitas dan transparansi data ekonomi. “Ada angka-angka yang ketika dilihat harus ditanyakan kembali: apakah angka tersebut benar-benar menggambarkan realitas?” ujarnya .
Ikhsan menekankan pentingnya transparansi agar data dapat diuji dan dibandingkan dengan indikator lain. “Supaya angka itu bisa dipercaya, transparansi adalah kuncinya,” tegas dia .
Kompetisi Jangan Dipersempit
Faktor lain yang menurut Ikhsan menentukan kualitas investasi adalah kompetisi. Persaingan yang sehat akan mendorong perusahaan meningkatkan efisiensi sekaligus memperbaiki kualitas barang dan pelayanan kepada konsumen. “If we want to increase the quality of investment, we have to compete,” ujar dia .
Sebaliknya, jika ruang kompetisi yang telah terbentuk kembali dipersempit, konsumen kehilangan pilihan dan dorongan bagi pelaku usaha untuk meningkatkan efisiensi ikut berkurang. “Kalau kita ingin meningkatkan kualitas investasi, kompetisi tidak boleh dikurangi,” tegasnya .
Pengakuan Pejabat dan Realitas Lapangan
Penilaian Ikhsan sejalan dengan pengakuan Wakil Menteri Investasi Todotua Pasaribu yang menyebut birokrasi perizinan masih menjadi hambatan struktural. Siklus investasi di Indonesia bisa mencapai 4-5 tahun, sementara Vietnam jauh lebih cepat .
Bahkan, terdapat tumpukan investasi belum terealisasi (unrealized investment) senilai hampir Rp1.500 triliun. Perusahaan sudah mengantongi izin dasar tetapi tak bisa mengeksekusi investasi karena terhalang masalah izin lanjutan .
Seruan untuk Perubahan
Dengan potensi ekonomi yang besar, tantangan Indonesia menurut Ikhsan bukan lagi membuktikan bahwa negara ini menarik untuk berinvestasi. Persoalan yang lebih mendasar adalah memperkecil kesenjangan antara potensi dan realisasi melalui pemulihan kepercayaan, peningkatan kredibilitas dan transparansi, serta menjaga kompetisi .
“Kalau kita ingin meningkatkan kualitas investasi, kompetisi tidak boleh dikurangi,” pungkasnya .





