Gunungkidul, 22 Agustus 2026 – Sampah organik tak lagi sekadar menjadi persoalan lingkungan bagi warga Desa Karangasem, Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Melalui budidaya maggot Black Soldier Fly (BSF), limbah rumah tangga justru diolah menjadi sumber daya yang menghasilkan pakan ternak, pupuk organik, sekaligus tambahan pendapatan masyarakat.
Inisiatif tersebut merupakan bagian dari Program Maggot BSF yang dikembangkan PT PLN Energi Primer Indonesia (PLN EPI) bersama PT Pelayaran Bahtera Adhiguna (BAg) sejak 2024. Program yang dikelola Bank Sampah Ngupadi Rejeki Karangasem itu kini telah berjalan hampir dua tahun dan mulai menunjukkan dampak nyata terhadap lingkungan serta perekonomian warga.
Rumah maggot di Karangasem saat ini mampu mengolah rata-rata 561 kilogram sampah organik per bulan yang dikumpulkan dari sekitar 60 rumah tangga dan dua pelaku usaha angkringan. Pengelolaan tersebut membantu menekan volume sampah yang berpotensi menimbulkan bau dan pencemaran hingga 40–60 persen.
Lebih dari sekadar mengurangi sampah, keberadaan program ini turut mendorong perubahan kebiasaan warga. Masyarakat semakin terbiasa memilah sampah organik sejak dari sumbernya sebelum diserahkan untuk dikelola.
Dari proses budidaya, rumah maggot menghasilkan sekitar 50 kilogram maggot segar setiap bulan, sekitar 420 kilogram kasgot per tahun, serta 540 liter pupuk organik cair (POC) per tahun. Tingkat keberhasilan panen juga terus berkembang, dengan capaian sekitar 30–55 persen pada setiap siklus budidaya.
Hasil tersebut kemudian diputar kembali dalam ekosistem ekonomi sirkular. Maggot dimanfaatkan sebagai pakan untuk budidaya lele dan ayam, masing-masing sekitar 547,5 kilogram dan 730 kilogram per tahun. Sementara kasgot digunakan sebagai pupuk organik, sedangkan POC dimanfaatkan dan sebagian dipasarkan kepada masyarakat.
Pemanfaatan produk turunan tersebut juga mendukung kegiatan pertanian warga di lahan sekitar 400 meter persegi.
Sampah Jadi Sumber Penghasilan
Dampak ekonomi menjadi salah satu hasil penting dari program tersebut. Kegiatan pengelolaan maggot berkembang menjadi berbagai usaha turunan, mulai dari peternakan ayam dan lele hingga budidaya sayuran.
Penjualan lele dan telur ayam rata-rata memberikan pemasukan sekitar Rp1,5 juta per bulan, sedangkan hasil penjualan sayuran mencapai sekitar Rp500 ribu per bulan. Dari kasgot dan POC, kelompok memperoleh pendapatan sekitar Rp4,5 juta per tahun.
Manfaat ekonomi juga muncul dari sisi penghematan. Penggunaan maggot sebagai pakan ternak mampu memangkas kebutuhan pembelian pakan hingga sekitar Rp10,08 juta per tahun.
Program ini melibatkan sekitar 25 anggota masyarakat sebagai pengelola aktif dan memberikan manfaat kepada sekitar 25–60 orang. Untuk memperkuat kapasitas warga, PLN EPI bersama para mitra telah menggelar sekitar lima hingga enam kali pelatihan mengenai pengelolaan sampah dan budidaya maggot.
Pelatihan tersebut ikut mendorong partisipasi masyarakat dalam memilah sampah hingga mencapai 60 persen.
Sekretaris Perusahaan PLN EPI, Mamit Setiawan, mengatakan program tersebut dirancang agar manfaat tanggung jawab sosial perusahaan tidak berhenti pada penyelesaian persoalan lingkungan, tetapi juga menciptakan nilai ekonomi bagi masyarakat.
“PLN EPI meyakini bahwa transisi menuju keberlanjutan harus dimulai dari solusi yang dekat dengan masyarakat. Program Maggot BSF membuktikan bahwa sampah organik dapat diolah menjadi sumber daya bernilai ekonomi sekaligus memperkuat ekonomi sirkular. Kami berharap model ini dapat terus berkembang dan direplikasi di berbagai daerah sehingga manfaatnya semakin luas,” ujar Mamit.
Sementara itu, Ketua Bank Sampah Ngupadi Rejeki Karangasem, Riyanta, menilai program tersebut telah mengubah perspektif warga terhadap sampah organik.
“Kini masyarakat tidak lagi melihat sampah sebagai limbah, melainkan sebagai sumber daya yang memiliki nilai ekonomi. Selain lingkungan menjadi lebih bersih, masyarakat juga memperoleh manfaat melalui penghematan biaya pakan, pupuk organik, dan peningkatan pendapatan kelompok,” kata Riyanta.
Keberlanjutan program diperkuat melalui penerapan SOP operasional, pencatatan produksi, serta kolaborasi dengan Dinas Lingkungan Hidup (DLH), Jejaring Pengelola Sampah Mandiri (JPSM), Bank Sampah Ponjong, Bank Sampah Wonosari, dan Bank Sampah Patuk.
Kolaborasi tersebut turut mendukung peningkatan kapasitas produksi sekitar 10 persen setiap tahun, sekaligus menjaga rumah maggot tetap berjalan secara berkelanjutan.
Bagi PLN EPI, Program Maggot BSF juga menjadi bagian dari penerapan prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG) melalui pengurangan sampah organik, pemberdayaan masyarakat, dan penguatan tata kelola berbasis kolaborasi.
Inisiatif di Karangasem tersebut sekaligus sejalan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (TPB/SDGs), khususnya TPB 12 mengenai konsumsi dan produksi yang bertanggung jawab.





