Jakarta, 30 Oktober 2026 – Pengusaha sekaligus adik Presiden Prabowo Subianto, Hashim Djojohadikusumo, memperingatkan risiko pelemahan nilai tukar rupiah hingga Rp22.000 per dolar Amerika Serikat apabila praktik saham gorengan di pasar modal dibiarkan. Menurutnya, fenomena tersebut dapat menggerus kepercayaan investor dan memperburuk stabilitas pasar keuangan nasional.
Pernyataan itu disampaikan Hashim dalam sebuah forum diskusi ekonomi di Jakarta, Jumat (30/10/2026). Ia menilai maraknya saham gorengan—saham yang harganya digoreng tanpa fundamental—telah menciptakan distorsi di pasar dan merugikan investor ritel.
“Kalau ini dibiarkan, bukan tidak mungkin rupiah bisa tembus Rp22.000. Kepercayaan pasar akan hilang, dan itu berbahaya bagi ekonomi kita,” ujar Hashim.
Soroti Penegakan Hukum
Hashim mendorong otoritas pasar modal, yakni Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Bursa Efek Indonesia (BEI), untuk menindak tegas praktik tersebut. Ia menilai penegakan hukum yang lemah membuat pelaku saham gorengan leluasa beroperasi.
“Jangan hanya fokus pada peringkat atau indeks. Yang lebih penting adalah integritas pasar. Investor harus dilindungi,” tegasnya.
Ia juga mengaitkan fenomena ini dengan tekanan yang tengah dialami pasar saham Indonesia, termasuk dampak dari konsultasi MSCI yang berpotensi menurunkan status pasar modal Indonesia.
Respons Pasar
Hingga berita ini diturunkan, OJK dan BEI belum memberikan tanggapan resmi atas pernyataan Hashim. Sejumlah analis menilai peringatan tersebut perlu menjadi refleksi bagi regulator untuk memperkuat pengawasan dan penegakan aturan di pasar modal.
“Saham gorengan memang merusak pasar. Kalau tidak ditindak, investor akan lari dan itu bisa melemahkan rupiah,” ujar seorang analis pasar modal di Jakarta.
Publik menanti langkah konkret dari otoritas untuk membersihkan pasar dari praktik yang merugikan. Tanpa penegakan hukum yang tegas, kekhawatiran akan pelemahan rupiah hingga Rp22.000 bukan tidak mungkin menjadi kenyataan.
Jakarta, 30 Oktober 2026
Redaksi




















