Indonesia Visioner
  • BERANDA
  • PERISTIWA
  • POLHUM
  • EKONOMI
  • VIDEO
  • ENTERTAINMENT
  • LUAR NEGERI
  • LIPUTAN DISKUSI
  • LIFESTYLE
  • RESENSI
  • SPORT
  • OPINI
  • INDEKS
No Result
View All Result
Indonesia Visioner
No Result
View All Result

Menjaga Ruang Akademik, Merawat Dialog Sipil-Militer

by Visioner Indonesia
April 21, 2025
in Nasional
Reading Time: 3min read
0
SHARES
62
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter
TNI dan Mahasiswa Dialog

Jakarta, (VISIONER )— Polemik kehadiran TNI di kampus kembali mencuat usai revisi Undang-Undang TNI disahkan pada 20 Maret lalu. Sebagian mahasiswa dan pegiat masyarakat sipil menilai keterlibatan militer di ruang akademik sebagai bentuk ancaman terhadap kebebasan berpikir. Mereka menyuarakan kekhawatiran akan kembalinya dwifungsi ABRI di era reformasi yang seharusnya sudah usai. Namun, suara berbeda datang dari Direktur Gagas Nusantara, Romadhon Jasn, yang menilai sikap anti-TNI di kampus justru mengingkari semangat keterbukaan yang dijunjung tinggi dunia akademik.

Revisi Pasal 7 dan 47 UU TNI menjadi sorotan karena memperluas peran TNI ke sektor sipil, termasuk penempatan prajurit aktif di lembaga negara serta keterlibatan dalam isu keamanan non-militer seperti siber. Petisi penolakan yang digaungkan aliansi mahasiswa UGM, UI, serta lembaga seperti KontraS dan Imparsial telah memperoleh hampir 30 ribu tanda tangan. Namun, Romadhon menyebut penolakan tersebut kerap dilandasi asumsi ketimbang bukti konkret.

“Kampus seharusnya menjadi ruang berpikir, bukan benteng penolakan, bahwa konteks saat ini berbeda dengan masa lalu. TNI berada di bawah kendali sipil, tidak lagi memiliki fraksi di parlemen, serta tunduk pada UU No. 34/2004 yang membatasi peran militer dalam kehidupan sipil. Survei LSI tahun 2023 mencatat tingkat kepercayaan publik terhadap TNI mencapai 93 persen, indikator bahwa masyarakat tidak memandang institusi ini sebagai ancaman,” kata Romadhon ke awak media, Senin (19/4/2025)

Ia menyoroti bahwa kehadiran TNI di kampus, dalam bentuk seminar bela negara atau diskusi isu pertahanan, sering kali atas undangan resmi universitas. Kasus di UI (2023) dan UGM (2024) menunjukkan bahwa respons penolakan muncul meski tidak terjadi intimidasi. “Mengusir TNI dari kampus tanpa dialog justru mencerminkan sikap anti-intelektual,” ucapnya.

Romadhon mencontohkan kolaborasi antara ITB dan Universitas Pertahanan dalam pengembangan teknologi pertahanan sebagai bentuk sinergi positif. Menurutnya, kampus justru perlu membuka ruang untuk menguji argumen, termasuk terhadap TNI. “Kalau keberatan dengan Pasal 47, ajukan pertanyaan dalam forum. Jangan malah melarang,” katanya.

Ia juga menggarisbawahi pentingnya transparansi. Jika TNI hadir di kampus, harus diumumkan secara terbuka, tanpa membawa senjata, serta berorientasi pada diskusi akademik. Sebaliknya, mahasiswa juga ditantang untuk aktif, kritis, dan siap menguji narasi melalui dialog terbuka.

Era digital, kata Romadhon, membuat praktik intimidasi sulit disembunyikan. Ia mencontohkan insiden pembubaran aksi mahasiswa oleh Satpol PP pada 9 April lalu yang langsung menuai kecaman publik dan permintaan maaf resmi. “Jika benar terjadi pelanggaran, media sosial akan mengungkapnya dalam hitungan menit,” tegasnya.

Namun demikian, ia menilai sebagian pegiat terlalu cepat menyimpulkan ancaman tanpa fakta. Menurutnya, hiperbolisasi justru mengaburkan kritik substansial. “Menolak TNI masuk kampus tanpa dasar hanya akan melemahkan posisi kampus sebagai pusat intelektual,” ujarnya.

Romadhon mengajak mahasiswa untuk tidak terjebak pada simbolisme. Jika ada dugaan intimidasi, jalur pelaporan terbuka: Komnas HAM, KontraS, hingga media sosial. Namun bila kehadiran TNI sebatas seminar, gunakan sebagai kesempatan berdiskusi. “Gunakan kecerdasan kalian, jangan terpancing ketakutan semu,” tambahnya.

Ia mengkritik aksi protes yang tidak membuka ruang dialog, “menolak kehadiran lawan bicara bukan bentuk perlawanan, tapi justru kemunduran demokrasi,” ucapnya.

Pada akhirnya, Romadhon mengajak kampus memosisikan diri sebagai jembatan, bukan tembok. Kehadiran TNI di ruang akademik, bila dikelola transparan dan terbuka, bisa memperkuat kontrol sipil sekaligus memperluas wawasan mahasiswa tentang pertahanan negara. “Demokrasi yang dewasa lahir dari keberanian berdialog, bukan ketakutan berlebihan,” pungkasnya.

Previous Post

KCB Jatim Minta Kemenhub Gandeng KPK Bongkar Dugaan Gratifikasi Manipulasi SRUT di BPTD Kelas II Jatim

Next Post

Serapan Gabah Melimpah, Impor Beras Tak Perlu: Gagas Nusantara Apresiasi Wamentan Sudaryono

Related Posts

Rapat Paripurna DPR Hari Ini: RUU PPRT dan RUU PSdK Disahkan
Nasional

Rapat Paripurna DPR Hari Ini: RUU PPRT dan RUU PSdK Disahkan

April 21, 2026
MPR Puji Langkah Presiden Prabowo Prioritaskan MBG untuk Anak yang Membutuhkan
Nasional

MPR Puji Langkah Presiden Prabowo Prioritaskan MBG untuk Anak yang Membutuhkan

April 19, 2026
TNI Akan Bangun Batalyon Pembangunan di Seluruh Kabupaten
Nasional

TNI Akan Bangun Batalyon Pembangunan di Seluruh Kabupaten

April 19, 2026
PDIP Kritik Pemerintah Soal Kenaikkan Harga BBM Non Subsidi
Ekonomi

PDIP Kritik Pemerintah Soal Kenaikkan Harga BBM Non Subsidi

April 19, 2026
Seskab Teddy Soroti Fenomena ‘ Inflasi Pengamat’
Nasional

Seskab Teddy Soroti Fenomena ‘ Inflasi Pengamat’

April 11, 2026
Dianggap Berjarak dengan Pemerintah, Ombudsman akan Benahi Internal
Nasional

Dianggap Berjarak dengan Pemerintah, Ombudsman akan Benahi Internal

April 11, 2026

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

TERKINI

Layanan Digital Polri: Hadiah Inovasi Bagi Warga yang Merindukan Pelayanan Cepat dan Transparan

Harga BBM Nonsubsidi Naik, Bahlil Mau Cegah Pertalite-Solar Jebol

Pertamax Tak Naik, Bahlil Buka Soal Kemungkinan Penyesuaian Harga

Pemerintah Kerek Harga Tabung Gas Nonsubsidi

Harga Emas Antam Naik Saat Emas Dunia Malah Turun

Gencatan Senjata AS-Iran Hampir Selesai, Mau Jual atau Beli Emas?

TERPOPULER

Layanan Digital Polri: Hadiah Inovasi Bagi Warga yang Merindukan Pelayanan Cepat dan Transparan

Harga BBM Nonsubsidi Naik, Bahlil Mau Cegah Pertalite-Solar Jebol

Pertamax Tak Naik, Bahlil Buka Soal Kemungkinan Penyesuaian Harga

Pemerintah Kerek Harga Tabung Gas Nonsubsidi

Harga Emas Antam Naik Saat Emas Dunia Malah Turun

Gencatan Senjata AS-Iran Hampir Selesai, Mau Jual atau Beli Emas?

  • About
  • Redaksi
  • Marketing & Advertising
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Email
  • Login
No Result
View All Result
  • BERANDA
  • PERISTIWA
  • POLHUM
  • EKONOMI
  • VIDEO
  • ENTERTAINMENT
  • LUAR NEGERI
  • LIPUTAN DISKUSI
  • LIFESTYLE
  • RESENSI
  • SPORT
  • OPINI
  • INDEKS

Indonesia Visioner - All Rights Reserved