Indonesia Visioner
  • BERANDA
  • PERISTIWA
  • POLHUM
  • EKONOMI
  • VIDEO
  • ENTERTAINMENT
  • LUAR NEGERI
  • LIPUTAN DISKUSI
  • LIFESTYLE
  • RESENSI
  • SPORT
  • OPINI
  • INDEKS
No Result
View All Result
Indonesia Visioner
No Result
View All Result

Menjaga Ruang Akademik, Merawat Dialog Sipil-Militer

by Visioner Indonesia
April 21, 2025
in Nasional
Reading Time: 3min read
0
SHARES
71
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter
TNI dan Mahasiswa Dialog

Jakarta, (VISIONER )— Polemik kehadiran TNI di kampus kembali mencuat usai revisi Undang-Undang TNI disahkan pada 20 Maret lalu. Sebagian mahasiswa dan pegiat masyarakat sipil menilai keterlibatan militer di ruang akademik sebagai bentuk ancaman terhadap kebebasan berpikir. Mereka menyuarakan kekhawatiran akan kembalinya dwifungsi ABRI di era reformasi yang seharusnya sudah usai. Namun, suara berbeda datang dari Direktur Gagas Nusantara, Romadhon Jasn, yang menilai sikap anti-TNI di kampus justru mengingkari semangat keterbukaan yang dijunjung tinggi dunia akademik.

Revisi Pasal 7 dan 47 UU TNI menjadi sorotan karena memperluas peran TNI ke sektor sipil, termasuk penempatan prajurit aktif di lembaga negara serta keterlibatan dalam isu keamanan non-militer seperti siber. Petisi penolakan yang digaungkan aliansi mahasiswa UGM, UI, serta lembaga seperti KontraS dan Imparsial telah memperoleh hampir 30 ribu tanda tangan. Namun, Romadhon menyebut penolakan tersebut kerap dilandasi asumsi ketimbang bukti konkret.

“Kampus seharusnya menjadi ruang berpikir, bukan benteng penolakan, bahwa konteks saat ini berbeda dengan masa lalu. TNI berada di bawah kendali sipil, tidak lagi memiliki fraksi di parlemen, serta tunduk pada UU No. 34/2004 yang membatasi peran militer dalam kehidupan sipil. Survei LSI tahun 2023 mencatat tingkat kepercayaan publik terhadap TNI mencapai 93 persen, indikator bahwa masyarakat tidak memandang institusi ini sebagai ancaman,” kata Romadhon ke awak media, Senin (19/4/2025)

Ia menyoroti bahwa kehadiran TNI di kampus, dalam bentuk seminar bela negara atau diskusi isu pertahanan, sering kali atas undangan resmi universitas. Kasus di UI (2023) dan UGM (2024) menunjukkan bahwa respons penolakan muncul meski tidak terjadi intimidasi. “Mengusir TNI dari kampus tanpa dialog justru mencerminkan sikap anti-intelektual,” ucapnya.

Romadhon mencontohkan kolaborasi antara ITB dan Universitas Pertahanan dalam pengembangan teknologi pertahanan sebagai bentuk sinergi positif. Menurutnya, kampus justru perlu membuka ruang untuk menguji argumen, termasuk terhadap TNI. “Kalau keberatan dengan Pasal 47, ajukan pertanyaan dalam forum. Jangan malah melarang,” katanya.

Ia juga menggarisbawahi pentingnya transparansi. Jika TNI hadir di kampus, harus diumumkan secara terbuka, tanpa membawa senjata, serta berorientasi pada diskusi akademik. Sebaliknya, mahasiswa juga ditantang untuk aktif, kritis, dan siap menguji narasi melalui dialog terbuka.

Era digital, kata Romadhon, membuat praktik intimidasi sulit disembunyikan. Ia mencontohkan insiden pembubaran aksi mahasiswa oleh Satpol PP pada 9 April lalu yang langsung menuai kecaman publik dan permintaan maaf resmi. “Jika benar terjadi pelanggaran, media sosial akan mengungkapnya dalam hitungan menit,” tegasnya.

Namun demikian, ia menilai sebagian pegiat terlalu cepat menyimpulkan ancaman tanpa fakta. Menurutnya, hiperbolisasi justru mengaburkan kritik substansial. “Menolak TNI masuk kampus tanpa dasar hanya akan melemahkan posisi kampus sebagai pusat intelektual,” ujarnya.

Romadhon mengajak mahasiswa untuk tidak terjebak pada simbolisme. Jika ada dugaan intimidasi, jalur pelaporan terbuka: Komnas HAM, KontraS, hingga media sosial. Namun bila kehadiran TNI sebatas seminar, gunakan sebagai kesempatan berdiskusi. “Gunakan kecerdasan kalian, jangan terpancing ketakutan semu,” tambahnya.

Ia mengkritik aksi protes yang tidak membuka ruang dialog, “menolak kehadiran lawan bicara bukan bentuk perlawanan, tapi justru kemunduran demokrasi,” ucapnya.

Pada akhirnya, Romadhon mengajak kampus memosisikan diri sebagai jembatan, bukan tembok. Kehadiran TNI di ruang akademik, bila dikelola transparan dan terbuka, bisa memperkuat kontrol sipil sekaligus memperluas wawasan mahasiswa tentang pertahanan negara. “Demokrasi yang dewasa lahir dari keberanian berdialog, bukan ketakutan berlebihan,” pungkasnya.

Previous Post

KCB Jatim Minta Kemenhub Gandeng KPK Bongkar Dugaan Gratifikasi Manipulasi SRUT di BPTD Kelas II Jatim

Next Post

Serapan Gabah Melimpah, Impor Beras Tak Perlu: Gagas Nusantara Apresiasi Wamentan Sudaryono

Related Posts

Dasco Pimpin Koordinasi BI dan Pemerintah, Dua Jurus Strategis Jaga Stabilitas
Nasional

Dasco Pimpin Koordinasi BI dan Pemerintah, Dua Jurus Strategis Jaga Stabilitas

Juni 6, 2026
“Bukan Hitungan Hari, Tapi Bobot Negeri” Dasco Ajak Debat Diplomasi Naik Kelas
Nasional

“Bukan Hitungan Hari, Tapi Bobot Negeri” Dasco Ajak Debat Diplomasi Naik Kelas

Juni 3, 2026
Masyarakat Sumatera Mulai Rasakan Percepatan Pemulihan, Dasco Terus Kawal Satgas
Daerah

Masyarakat Sumatera Mulai Rasakan Percepatan Pemulihan, Dasco Terus Kawal Satgas

Mei 26, 2026
Harmoni Politik: Publik Membenarkan Penjelasan Dasco Terkait Keikhlasan Istana
Nasional

Harmoni Politik: Publik Membenarkan Penjelasan Dasco Terkait Keikhlasan Istana

Mei 21, 2026
Simak Bukti Kebijakan di Balik Swasembada & Kesejahteraan Petani
Ekonomi

Simak Bukti Kebijakan di Balik Swasembada & Kesejahteraan Petani

April 27, 2026
Rapat Paripurna DPR Hari Ini: RUU PPRT dan RUU PSdK Disahkan
Nasional

Rapat Paripurna DPR Hari Ini: RUU PPRT dan RUU PSdK Disahkan

April 21, 2026

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

TERKINI

Dukung Direksi Baru PT Bukit Asam Tbk, Ketua INSPIRA Jakarta Pusat-Utara Oloan Gani Nyatakan Kesiapan Kolaborasi

Kapolri Buka Suara Soal WA Titipan, JAN: Rakyat Sekarang Punya Alasan Percaya Polri

Dugaan Pemalsuan Surat Tanah di Kencana, Ahli Waris Tempuh Jalur Hukum

Usia Kapolri 60 Tahun, JAN: “Keputusan DPR Sudah Tepat, Publik Tak Perlu Resah”

Visioner Indonesia: Dr. Herman Layak Melanjutkan Kepemimpinan Sebagai Rektor Definitif UHO

Pemuda Muslimin Indonesia Jakarta Utara Apresiasi Ketegasan Menteri Imipas Agus Andrianto Jaga Integritas Lembaga

TERPOPULER

Dukung Direksi Baru PT Bukit Asam Tbk, Ketua INSPIRA Jakarta Pusat-Utara Oloan Gani Nyatakan Kesiapan Kolaborasi

Kapolri Buka Suara Soal WA Titipan, JAN: Rakyat Sekarang Punya Alasan Percaya Polri

Dugaan Pemalsuan Surat Tanah di Kencana, Ahli Waris Tempuh Jalur Hukum

Usia Kapolri 60 Tahun, JAN: “Keputusan DPR Sudah Tepat, Publik Tak Perlu Resah”

Visioner Indonesia: Dr. Herman Layak Melanjutkan Kepemimpinan Sebagai Rektor Definitif UHO

Pemuda Muslimin Indonesia Jakarta Utara Apresiasi Ketegasan Menteri Imipas Agus Andrianto Jaga Integritas Lembaga

  • About
  • Redaksi
  • Marketing & Advertising
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Email
  • Login
No Result
View All Result
  • BERANDA
  • PERISTIWA
  • POLHUM
  • EKONOMI
  • VIDEO
  • ENTERTAINMENT
  • LUAR NEGERI
  • LIPUTAN DISKUSI
  • LIFESTYLE
  • RESENSI
  • SPORT
  • OPINI
  • INDEKS

Indonesia Visioner - All Rights Reserved