Jakarta, 4 Agustus 2026 – Kepala Korps Lalu Lintas (Kakorlantas) Polri Irjen Pol. Wibowo menegaskan bahwa keselamatan lalu lintas tidak dapat diwujudkan oleh satu institusi semata. Menurutnya, dibutuhkan kolaborasi seluruh pemangku kepentingan, mulai dari kementerian, pemerintah daerah, hingga masyarakat .
Pernyataan tersebut menggaungkan semangat kolaborasi yang dipegangnya: “Semua Karena Kita”. “Tidak ada keberhasilan lalu lintas itu karena satu orang atau satu kementerian. Keberhasilan itu karena semua stakeholder terkait, termasuk masyarakat itu sendiri,” ujarnya dalam silaturahmi di NTMC Polri .
Tantangan Kompleks ke Depan
Wibowo menyebut tantangan lalu lintas akan semakin kompleks ke depan. Indonesia diproyeksikan memasuki bonus demografi hingga 2045, sementara pertumbuhan kendaraan bermotor mencapai 5-6 persen per tahun, tidak diimbangi penambahan infrastruktur jalan .
Kondisi diperberat dengan rendahnya budaya tertib berlalu lintas, seperti pelanggaran melawan arus yang masih menjadi keluhan utama masyarakat .
Penegakan Hukum Berbasis ETLE
Meskipun mengedepankan kolaborasi, Wibowo menegaskan penegakan hukum lalu lintas tetap mengutamakan sistem Electronic Traffic Law Enforcement (ETLE) statis dan bergerak sebagai instrumen utama. Penindakan manual hanya dilakukan selektif terhadap pelanggaran kasatmata berpotensi fatalitas, seperti knalpot brong, balap liar, dan melawan arus .
Ia juga membantah narasi tentang kenaikan denda tilang 150 persen dan pemberlakuan tilang manual menyeluruh, menegaskan informasi tersebut hoaks .
Langkah Awal dan Harapan
Sebagai langkah awal, Wibowo akan memetakan jalur di wilayah timur Indonesia persiapan Operasi Nataru dan Ketupat. Ia berharap semangat “Semua Karena Kita” menjadi landasan kolaborasi seluruh pihak . “Keberhasilan yang akan tercapai adalah keberhasilan kita semuanya,” pungkasnya .






