Jakarta – Pemerintah melalui Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menargetkan seluruh Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) di Indonesia telah menjual Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis biosolar dengan campuran 50% minyak sawit atau B50 mulai 1 Oktober 2026 . Langkah ini merupakan kelanjutan dari program biodiesel nasional yang telah berjalan bertahap sejak beberapa tahun lalu.
Target tersebut disampaikan sebagai bagian dari upaya percepatan transisi energi dan pengurangan ketergantungan pada bahan bakar fosil impor. Program B50 sendiri resmi dimulai pada 1 Juli 2026, namun diberikan masa transisi tiga bulan untuk menghabiskan stok B40 yang masih tersedia di seluruh rantai distribusi .
Saat ini, setidaknya 57% dari total SPBU di Indonesia telah mendistribusikan B50 kepada masyarakat. Angka ini diproyeksikan akan terus meningkat seiring dengan penyelesaian infrastruktur dan distribusi yang dioptimalkan oleh Pertamina Patra Niaga dalam beberapa bulan ke depan .
Direktur Gagas Nusantara, Romadhon Jasn, menyambut baik komitmen pemerintah dan Pertamina dalam akselerasi program B50 ini. “Kami mengapresiasi langkah nyata Pertamina dan Kementerian ESDM yang terus mendorong pemanfaatan energi baru terbarukan. Target 100% SPBU menjual B50 pada Oktober adalah bukti keseriusan Indonesia dalam transisi energi,” ujar Romadhon di Jakarta, Kamis (30/7/2026).
Program B50 diperkirakan akan membawa manfaat ekonomi dan lingkungan yang signifikan. Penggunaan B50 diperkirakan dapat menghemat devisa negara hingga Rp170 triliun per tahun melalui pengurangan impor BBM. Selain itu, program ini diproyeksikan mampu menurunkan emisi gas rumah kaca hingga 44,46 juta ton CO2 pada tahun 2026, sejalan dengan komitmen Indonesia dalam pengurangan emisi karbon .
“Indonesia adalah negara pertama di dunia yang mewajibkan campuran biodiesel 50% untuk biosolar. Ini adalah pencapaian yang membanggakan dan patut didukung oleh seluruh elemen masyarakat. Dukungan terhadap B50 berarti juga mendukung kemandirian energi dan industri sawit nasional,” tambah Romadhon.
Romadhon juga menekankan pentingnya edukasi berkelanjutan kepada masyarakat terkait penggunaan B50. “Keberhasilan transisi energi tidak hanya bergantung pada ketersediaan infrastruktur, tetapi juga pemahaman dan penerimaan publik. Kami mendorong Pertamina dan pemerintah untuk terus melakukan sosialisasi secara masif agar masyarakat memahami manfaat B50 bagi ekonomi dan lingkungan,” jelasnya.
Gagas Nusantara melihat program B50 sebagai peluang besar bagi Indonesia untuk memimpin transisi energi di tingkat global sekaligus memperkuat ketahanan energi nasional. Sinergi antara pemerintah, BUMN energi, dan masyarakat menjadi kunci utama keberhasilan program strategis ini.
Romadhon menutup pandangannya, “Kami optimis Indonesia mampu menjalani transisi energi dengan baik. Keberhasilan B50 adalah bukti bahwa negeri ini tidak hanya kaya sumber daya, tetapi juga memiliki keberanian untuk berinovasi demi masa depan yang lebih baik dan berkelanjutan bagi generasi mendatang.”






