Gelar Diskusi Literasi, Lilin Ajak Milenial Sadar Literasi

Gelar Diskusi Literasi, Lilin Ajak Milenial Sadar Literasi

- in Daerah, Pendidikan
73
0

JAKARTA – Yayasan Lingkar Literasi Negeri (Lilin) sukses menggelar diskusi yang mengangkat tema ‘Analisis Wacana Kritis, Sebuah Pengantar Memahami Realitas’ dengan menghadirkan tiga pemateri berbeda.

Asratillah, penulis buku Habitus Jahil dan Anti Demagog itu menjadi pembicara pertama pada diskusi yang dilakukan oleh Lingkar Literasi Negeri, pada Senin malam (28/08/21). Digelar secara daring, melalui aplikasi Meeting Zoom.

Sekitar 60 peserta dari berbagai latar belakang yang tersebar di beberapa wilayah di Indonesia turut antusias mengikuti jalannya diskusi yang digelar hampir 2 jam itu.

Asratillah, kritikus atau penulis yang juga berprofesi sebagai dosen tersebut membagi 2 AWK. Analisis Wacana Kritis sebagai teori (sekadar pisau analisis) dan ataukah AWK sebagai metode, praksis. Pada pemaparannya Asratillah juga mengurai secara detail, mengenai pandangan, pendapat serta model-model AWK beberapa tokoh berbeda, postulat AWK, termaksud disinggungn Asra dalam paparannya, AWK punya fungsi sebagai sosial problem untuk menjawab masalah sosial-humaniora di masyarakat.

Menurut Asra, ada beberapa pendekatan dalam analisis wacana kritis (AWK) yang bisa dipakai untuk memahami materi ini secara holistik, diantaranya menggunakan pendekatan strukturalis, dekonstruksi, konstruksionis dan pelnbagai pendekatan lainnya.

“Meski tak bisa lepas dari 3 pemikir utama, seperti Norman Fairclough, Teun A Van Dick dan Ruth Wodak, AWK dalam perkembangannya jua tidak bisa dilepaskan dari frankfurt school (Aliran Mazhab Kritis) yang sukses mengembangkan analisis AWK ini secara radikal,” sampainya.

Meski diakui Asra, bahwa model, pandangan, teori AWK ini cukup luas dan mesti dipahami dari berbagai sudut pandang lintas-multidispliner, intra-disipliner, interdisipliner dan multidispliner.

Ditempat yang sama, Nawir MN selaku Aktivis sosial yang juga menjadi pembicara kedua pada diskusi ini memantik perbincangan mengenai AWK dari sisi Pembelajaran Kritis, AWK dilihat dari sudut pandang linguistik (teks) dan praksis.

“Ini sebagai pengantar para peserta diskusi untuk melihat secara lansung, bagaimana AWK digunakan dalam melihat realitas dalam sistim politik, sosial, budaya masyarakat,” ucapnya.

Terkahir, Ibnu Arsib selaku pegiat literasi yang menjadi pemateri ketiga dalam kegiatan ini, mengatakan bahwa Di era disrupsi dibutuhkan kecakapan literasi untuk memeriksa ulang berbagai informasi yang diterima.

”Kecakapan literasi bukan hanya soal buku , akan tetapi bagaimana memahami tulisan, bahasa, audio visual dan pola pikir itu sendiri,” kata Ibnu.

Lebih lanjut, menurutnya masyarakat informasi, sebuah istilah yang dikutipnya dari Buku Fukuyama, memerlukan sorotan.

“Kegunaan AWK ialah untuk memeriksa teks. Oleh karenanya, dibutuhkan peran-peran termaksud dari para pegiat literasi dalam melihat literasi dan perangkat AWK ini bukan sekadar baca tulis, pungkasnya. Beberapa penanggap pada diskusi ini memberikan tanggapan dan komentar, sehingga diskusi menjadi mengalir serta dialogis,” pungkasnya.

Kegiatan diskusi ini merupakan, bagian pertama yang digelar yayasan Lingkar Literasi Negeri (Lilin) bekerjasama dengan Kampus Gagasan. Beberapa media-portal online/stake holder lainnya.

Kontributor : Yogi

Facebook Comments