Jakarta, 4 Agustus 2026 – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) memulai pekan ini dengan catatan positif, meninggalkan level psikologis Rp18.000 per dolar AS pada penutupan perdagangan Senin (3/8/2026). Mengutip data Refinitiv, rupiah ditutup menguat 0,06 persen ke posisi Rp17.980 per dolar AS, melanjutkan tren penguatan selama dua hari perdagangan beruntun .
Penguatan rupiah pada awal pekan ini terutama didorong oleh pelemahan dolar AS di pasar global, yang tercermin dari indeks dolar AS (DXY) yang turun ke kisaran 99,8 dari posisi sekitar 101,5 pada pekan sebelumnya . Sentimen positif juga datang setelah Presiden AS Donald Trump membatalkan rencana serangan militer terhadap Iran, membuka peluang negosiasi damai yang meredakan ketegangan geopolitik dan menekan harga minyak .
Faktor domestik turut menopang penguatan rupiah. Purchasing Managers’ Index (PMI) Manufaktur Indonesia kembali memasuki fase ekspansi pada Juli 2026 dengan mencapai level 50,2, naik signifikan dari 46,9 pada Juni 2026 . Perbaikan ini menunjukkan aktivitas industri mulai pulih setelah sebelumnya mengalami kontraksi. Selain itu, Indonesia mencatat deflasi sebesar 0,14 persen secara bulanan pada Juli 2026, dengan inflasi tahunan 2,88 persen, yang menunjukkan tekanan harga domestik masih terkendali .
Namun, penguatan rupiah diperkirakan masih bersifat terbatas karena belum didukung oleh derasnya aliran dana asing ke pasar domestik yang masih tercatat outflow . Sentimen global juga masih dibayangi oleh ketidakpastian, dengan pelaku pasar yang masih mencermati perkembangan ekonomi AS dan potensi perubahan kebijakan suku bunga The Fed.






