Indonesia Visioner
  • BERANDA
  • PERISTIWA
  • POLHUM
  • EKONOMI
  • VIDEO
  • ENTERTAINMENT
  • LUAR NEGERI
  • LIPUTAN DISKUSI
  • LIFESTYLE
  • RESENSI
  • SPORT
  • OPINI
  • INDEKS
No Result
View All Result
Indonesia Visioner
No Result
View All Result

Masalah gizi Harus Menjadi Masalah Bersama Umat

by Aulia Rachman Siregar
Oktober 3, 2016
in Kesehatan
Reading Time: 3min read
Masalah gizi Harus Menjadi Masalah Bersama Umat
0
SHARES
14
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

IndonesiaVisioner.Jakarta-. Salah satu tantangan berat bagi pembangunan kesehatan di negara-negara berkembang adalah masih tingginya angka malnutrisi. Data menunjukkan bahwa pertambahan jumlah penduduk miskin berbanding lurus dengan pertambahan jumlah kasus malnutrisi baik gizi kurang, maupun kasus gizi buruk.

Di negara-negara berkembang, kemiskinan dan masalah malnutrisi merupakan sebuah mata rantai yang tak dapat dipisahkan. Indonesia, sebuah negara dengan jumlah penduduk miskin yang masih tergolong besar, juga menghadapi masalah tersebut. Data riset kesehatan dasar (riskesdas) Indonesia tahun 2013 menunjukkan bahwa berbagai penyakit yang disebabkan oleh malnutrisi di Indonesia masih sangat tinggi, diantaranya angka penderita stunting (37.2%), anemia pada ibu hamil (37.1%) dan balita (28.1%), anak kekurangan gizi (19.6%), dan anak bergizi lebih (11.9%).
Data di atas juga menunjukkan sebuah fenomena yang mengkhawatirkan, yaitu semakin bertambahnya angka jumlah anak dengan gizi lebih (overnutrition).

Data Riskesdas menunjukkan bahwa angka prevalensi  overweight pada anak laki-laki usia 6-14 tahun Indonesia sebesar 9,5% (2007) meningkat menjadi  10,7% (2010) dan pada perempuan sebesar 6,4% (2007) meningkat menjadi  7,7% (2010). Gambaran ini menunjukkan bahwa kini, dalam masalah gizi, negara kita mengalami beban ganda dalam permasalah malnutrisi (double burden malnutrition).

Sementara masalah-masalah lama dalam persoalan gizi kurang belum terselesaikan, kini kita dihadapkan dengan persoalan gizi lebih yang tak kurang berbahayanya.
Masalah malnutrisi, kadang masih menjadi masalah yang disepelekan. Padahal, masalah malnutrisi berkaitan erat dengan berbagai efek jangka panjang yang sifatnya irrefersible.

Berbagai riset menunjukkan bahwa malnutrisi utamanya pada anak-anak dan perempuan hamil, dalam jangka panjang akan berkaitan erat dengan tingginya angka kematian ibu dan anak, tingginya angka kecacatan dan penyakit kongenital, tingginya angka komplikasi dalam kehamilan dan persalinan, juga angka stunting (anaka dengan perawakan pendek).

Penting untuk diketahui bahwa Indonesia menempati salah satu urutan paling atas, negara dengan jumlah anka yang menderita stunting di dunia. Berbagai efek jangka panjang dari malnutrisi di atas, adalah efek yang sifatnya irrefersible, artinya tidak bisa disembuhkan. Maka satu-satunya upaya untuk menekan penyakit-penyakit tersebut adalah upaya pencegahan dan perbaikan gizi.

Ini menjadi penting, sebab daya saing dan ketahanan sebuah bangsa sangat erat kaitannya dengan perbaikan kualitas anak dan balita di negara tersebut. Mengapa? Sebab penelitian menunjukkan bahwa kualitas dan Kecerdasan seorang anak sangat ditentukan oleh nutrisinya di seribu pertama hari kehidupan, yaitu mulai dari masa janin hingga si anak berusia dua tahun.

Pertumbuhan sel-sel dan struktur otak, yang mana meru pakan bagian yang sangat vital dalam pembentukan kecerdasan anak, sekitar 80% nya terjadi di seribu hari pertama kehidupan tersebut. Bisa kita bayangkan, akan bagaimana jadinya sebuah bangsa yang anak-anaknya, di masa emas pertumbuhan otaknya, tidak mendapatkan nutrisi yang cukup.

Masalah malnutrisi ini, harus menjadi keresahan bersama, termasuk bagi organisasi-organisasi kepemudaan, organisasi mahasiswa, lembaga swadaya masyarakat, juga komponen masyarakat lainnya. Masalah malnutrisi ini juga lah yang menjadi tema bakti sosial yang diselenggarakan oleh Lembaga Kesehatan Mahasiswa Islam (LKMI), salah satu organisasi mahasiswa yang concern pada kegiatan-kegiatan dan issue pembangunan kesehatan. Pada hari sabtu (1/10) lalu, LKMI menyelenggarakan bakti sosial di pesantren Assyawarifiah, Rorotan, Cilincing, Jakarta Utara. Dalam kegiatan bakti sosial yang merupakan rangkaian kegiatan Peringatan Milad LKMI tersebut, LKMI mengadakan konsultasi dan edukasi gizi ke warga pesantren dan warga sekitar, mengadakan pembagian telur gratis, dan pelayanan kesehaatan kepada warga pesantren dan warga sekitar.

Dr. Tirta Prawita Sari, Sp.GK, MSc, dokter ahli gizi klinik jyang menjadi narasumber utama dalam kegiatan tersebut menyampaikan bahwa asupan gizi yang seimbang, yang komposisi kebutuhan makronutrien dan mikronutriennya lengkap, merupakan hal penting yang harus ada dalam setiap porsi makanan kita. Makanan tak perlu mahal, yang penting lengkap dan bergizi seimbang. Kebersihan tangan sebelum mengkonsumsi makanan juga harus doerhatikan.

“kalau perlu, jangan lewatkan satu hari tanpa makan telur. “ kata dokter Tirta.

Taufan Tuarita, direktur LKMI, menambahkan bahwa merupakan kewajiban bagi umat di masa sekarang untuk menjaga asupan gizi, sebab asupan gizi itu tak hanya demi kepentingan diri sendiri, tapi juga akan menjadi penentu kualitas generasi yang akan dihasilkan di masa depan. Umat harus menjadikan ini issue besar, sebab kualitas generasi kita di masa yang akan bersaing dengan bangsa lain, ditentukan di asupan gizi yang kita konsumsi hari ini.

“Ke depan, LKMI akan kembali menyelenggarakan berbagai kegiatan-kegiatan pemberdayaan dan penguatan kapasitas masayarakat di bidang kesehatan, termasuk dalam masalah edukasi gizi. Ini penting” tandasnya. (MR. Vis)

Previous Post

Bakornas LKMI PB HMI lakukan Tadarus Kesehatan

Next Post

Amburadulnya Pelatihan Pratugas Pendamping Desa

Related Posts

Kesehatan

Potret Pelayanan BPJS Kesehatan di Tengah Kabar Penyesuaian Iuran

Februari 27, 2026
Kesehatan

Epidemiolog: Virus Nipah Berpotensi Masuk Indonesia

Januari 29, 2026
Kesehatan

Kemenkes Ungkap Masalah Kesehatan Warga Baduy: Gatal dan Diare

Januari 4, 2026
Kesehatan

8 Provinsi Kasus Terbanyak Super Flu di RI: Jawa Timur Terbanyak

Januari 4, 2026
Kesehatan

64,5% Kasus Super Flu RI Diidap Perempuan

Januari 4, 2026
Kesehatan

Kemenkes pastikan vaksin saat ini tetap efektif lawan influenza A H3N2

Januari 1, 2026

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

TERKINI

Eks PB HMI Silaturahmi ke Dandim, Apresiasi Peran Kodim Kawal Koperasi Desa Merah Putih

Menjaga Marwah Ibadah: Pemuda Muslimin Jakarta Utara mendukung usulan Kemenimipas Percepatan Satgas Haji Non-Prosedural

Antusiasme Publik Tinggi, Satgas Haji Polri Diminta Tanpa Ampun Sikat Travel Nakal dan Visa Palsu

Optimisme Pengelolaan Sampah: JAMMA Dukung Transformasi Hilirisasi Gubernur Pramono

Merajut Kembali Persaudaraan Bangsa: Mengapa Dialog Lebih Utama dalam Kasus Jusuf Kalla?

Musyawarah Pimpinan Kecamatan Golkar Purwoharjo Perkuat Konsolidasi dan Arah Strategi Pemenangan

TERPOPULER

Eks PB HMI Silaturahmi ke Dandim, Apresiasi Peran Kodim Kawal Koperasi Desa Merah Putih

Menjaga Marwah Ibadah: Pemuda Muslimin Jakarta Utara mendukung usulan Kemenimipas Percepatan Satgas Haji Non-Prosedural

Antusiasme Publik Tinggi, Satgas Haji Polri Diminta Tanpa Ampun Sikat Travel Nakal dan Visa Palsu

Optimisme Pengelolaan Sampah: JAMMA Dukung Transformasi Hilirisasi Gubernur Pramono

Merajut Kembali Persaudaraan Bangsa: Mengapa Dialog Lebih Utama dalam Kasus Jusuf Kalla?

Musyawarah Pimpinan Kecamatan Golkar Purwoharjo Perkuat Konsolidasi dan Arah Strategi Pemenangan

  • About
  • Redaksi
  • Marketing & Advertising
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Email
  • Login
No Result
View All Result
  • BERANDA
  • PERISTIWA
  • POLHUM
  • EKONOMI
  • VIDEO
  • ENTERTAINMENT
  • LUAR NEGERI
  • LIPUTAN DISKUSI
  • LIFESTYLE
  • RESENSI
  • SPORT
  • OPINI
  • INDEKS

Indonesia Visioner - All Rights Reserved