Jakarta, 5 Agustus 2026 – Di hadapan mantan Ketua Mahkamah Konstitusi Mahfud MD, Menteri Sekretaris Negara Kabinet Bayangan Feri Amsari mengungkapkan alasan utama pembentukan kabinet tandingan. Bukan sekadar untuk pemanis demokrasi, melainkan untuk melawan apa yang disebutnya sebagai “kesombongan kekuasaan” yang mulai terasa di ruang publik.
“Kami bentuk kabinet bayangan karena kami melihat ada kesombongan yang mulai terasa. Kekuasaan yang tidak terkontrol akan melahirkan kesewenangan. Kabinet bayangan hadir untuk mengingatkan, bukan untuk menjatuhkan,” ujar Feri dalam diskusi bertajuk “Menjaga Demokrasi dari Kesombongan Kuasa” di Jakarta, Selasa (4/8/2026).
Pernyataan Feri ini mengundang gelak tawa dan tepuk tangan hadirin. Ia menyebut bahwa kesombongan itu tidak selalu terlihat dari cara bicara, tapi dari cara menutup ruang kritik dan mengabaikan suara-suara alternatif. “Kalau tidak ada yang berani mengingatkan, bukan tidak mungkin para pemimpin lupa bahwa mereka adalah pelayan rakyat, bukan raja,” sindirnya dengan gaya khasnya yang satir dan lugas.
Mahfud MD yang duduk di sebelahnya hanya tersenyum. Dalam kesempatan itu, Mahfud mengakui bahwa kehadiran kabinet bayangan adalah hal yang sehat dalam demokrasi, asalkan tidak menjadi alat untuk memecah belah.
“Ide kabinet bayangan ini bagus. Saya setuju. Tidak dilarang konstitusi. Ini adalah instrumen kontrol yang elegan. Tapi ingat, jangan sampai kabinet bayangan malah jadi bayangan yang menakut-nakuti,” ujar Mahfud dengan nada bijak namun tetap menggelitik.
Feri pun menimpali, “Bayangan itu kan selalu mengikuti. Kalau penguasa berjalan lurus, bayangannya lurus. Kalau penguasa miring, bayangannya miring. Tapi kalau penguasa kesombongannya tinggi, ya bayangannya malah jadi raksasa.”
Diskusi yang berlangsung santai namun kritis ini menjadi perbincangan hangat di media sosial. Warganet ramai-ramai mengomentari gaya Feri yang blak-blakan dan cara Mahfud merespons dengan elegan. Banyak yang menilai bahwa diskusi semacam ini adalah obat bagi demokrasi yang mulai kehausan akan kritik.
Feri menambahkan bahwa kabinet bayangan tidak akan menjadi oposisi yang hanya “nge-gas” tanpa solusi. “Kami punya program tandingan untuk setiap kementerian. Karena kalau cuma protes, kita sama saja dengan monyet yang berteriak di atas pohon. Kami ingin menunjukkan bahwa ada cara lain, ada jalan lain, ada pemikiran lain,” katanya.
Ia mencontohkan, kabinet bayangan telah menyiapkan kajian alternatif untuk program Makan Bergizi Gratis, Koperasi Desa Merah Putih, hingga kebijakan energi. “Kami tidak anti-pemerintah, kami ingin pemerintah lebih baik. Karena kalau pemerintah baik, rakyat senang. Kalau rakyat senang, kami senang. Tapi kalau pemerintah sombong, ya kami protes. Itu demokrasi,” pungkas Feri.






