Jakarta, 15 Oktober 2026 – Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), Abdul Mu’ti, menegaskan bahwa pendidikan berkualitas merupakan kunci utama untuk mewujudkan Generasi Emas Indonesia. Menurutnya, investasi terbesar bangsa bukanlah pada infrastruktur fisik semata, melainkan pada manusia—melalui pendidikan yang bermutu dan merata.
“Tidak ada bangsa yang maju tanpa pendidikan yang berkualitas. Generasi Emas 2045 hanya bisa diwujudkan jika hari ini kita serius membangun fondasi pendidikan yang kuat,” ujar Abdul Mu’ti dalam pembukaan Rapat Koordinasi Nasional Pendidikan di Jakarta, Rabu (14/10/2026).
Empat Pilar Pendidikan Berkualitas
Mendikdasmen memaparkan empat pilar utama dalam mewujudkan pendidikan berkualitas. Pertama, ketersediaan guru yang kompeten dan sejahtera. Menurutnya, guru adalah ujung tombak pendidikan yang harus mendapatkan perhatian serius, baik dari sisi kualitas maupun kesejahteraan.
“Guru yang sejahtera akan melahirkan murid yang berkualitas. Jangan sampai guru kita masih memikirkan kebutuhan dasar saat mengajar,” tegasnya.
Kedua, kurikulum yang relevan dengan kebutuhan zaman. Abdul Mu’ti menekankan pentingnya kurikulum yang tidak hanya menekankan aspek kognitif, tetapi juga karakter, keterampilan, dan literasi digital.
Ketiga, infrastruktur pendidikan yang memadai dan merata. Ia menyoroti masih adanya kesenjangan sarana dan prasarana antara sekolah di perkotaan dan pedesaan, terutama di wilayah 3T (tertinggal, terdepan, dan terluar).
Keempat, akses yang inklusif bagi semua anak bangsa. Mendikdasmen menegaskan bahwa tidak boleh ada anak Indonesia yang tertinggal dari layanan pendidikan, termasuk anak-anak berkebutuhan khusus dan mereka yang berada di daerah terpencil.
Program Prioritas
Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah tengah menggenjot sejumlah program prioritas. Salah satunya adalah percepatan sertifikasi guru melalui Pendidikan Profesi Guru (PPG), yang pada 2025 melonjak dari 29.933 orang menjadi 206.411 orang—atau naik sekitar 700 persen.
Pemerintah juga terus memperluas Program Indonesia Pintar (PIP) bagi siswa kurang mampu, revitalisasi sekolah, serta penguatan pendidikan vokasi agar lulusan siap kerja dan berdaya saing.
“Anggaran pendidikan kita naik signifikan. Tugas kita adalah memastikan setiap rupiah benar-benar sampai ke sekolah, ke guru, dan ke murid. Jangan ada kebocoran,” tegas Abdul Mu’ti.
Tantangan dan Harapan
Mendikdasmen mengakui masih banyak tantangan dalam mewujudkan pendidikan berkualitas, mulai dari kesenjangan akses, kualitas guru, hingga rendahnya literasi dan numerasi siswa. Namun, ia optimistis dengan kolaborasi semua pihak, tantangan tersebut dapat diatasi.
“Pendidikan bukan hanya tanggung jawab pemerintah. Ini tanggung jawab kita semua—keluarga, sekolah, masyarakat, dan dunia usaha. Mari bergotong royong membangun generasi emas,” pungkasnya.




















