Jakarta, 15 Oktober 2026 – Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mencatat sebanyak 277.075 kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di 63 kabupaten/kota pada tujuh provinsi terdampak. Dari jumlah tersebut, 62.400 kasus atau 22,5 persen menimpa anak usia 0-5 tahun (balita).
“Data Kemenkes per 12 Oktober 2026 mencatat 277.075 kasus ISPA secara kumulatif di 63 kabupaten atau kota pada tujuh provinsi terdampak, termasuk 62.400 kasus atau 22,5 persen pada anak usia 0–5 tahun,” ujar Kepala Biro Komunikasi dan Informasi Publik Kemenkes, Aji Muhawarman.
Kelompok Rentan Paling Terdampak
Aji menjelaskan bahwa asap karhutla mengandung partikel halus PM2.5 dan zat berbahaya lainnya yang dapat memicu ISPA, batuk, sesak napas, serta memperburuk asma. Bayi, balita, ibu hamil, lansia, dan penderita penyakit paru kronis menjadi kelompok paling rentan terpapar partikel halus tersebut.
“Jika anak mengalami sesak napas, napas cepat, sulit menyusu atau minum, segera bawa ke fasilitas kesehatan,” tegasnya.
Kemenkes juga mengingatkan bahwa penggunaan nebulizer harus sesuai indikasi dan petunjuk tenaga medis, bukan dilakukan sembarangan secara mandiri.
Sebaran Kasus Tertinggi
Berdasarkan data Kemenkes, Kalimantan Selatan mencatat jumlah kasus ISPA tertinggi dengan 74.636 kasus, disusul Sumatera Selatan dengan 74.458 kasus. Kasus ISPA ini tersebar di tujuh provinsi dan 63 kabupaten/kota.
Kualitas Udara Berbahaya
Pantauan kualitas udara di lapangan menunjukkan ancaman serius bagi kesehatan masyarakat. Dari 37 stasiun pemantau Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU), sebanyak 13 daerah berada pada kategori berbahaya, 11 daerah pada kategori sangat tidak sehat, dan 13 daerah lainnya masuk dalam kategori tidak sehat.
Mobilisasi Tenaga Kesehatan dan Logistik
Kemenkes telah memobilisasi 2.106 tenaga medis dan tenaga kesehatan untuk memperkuat layanan di wilayah terdampak. Selain itu, lebih dari 2,8 juta masker telah didistribusikan dari berbagai sumber, baik pemerintah pusat maupun daerah.
Dukungan logistik lainnya meliputi oksigen konsentrator, obat-obatan, hingga alat pelindung diri untuk memastikan penanganan kesehatan berjalan optimal.
Imbauan untuk Masyarakat
Kemenkes mengimbau masyarakat di wilayah terdampak untuk mengurangi aktivitas di luar rumah saat kualitas udara memburuk. Jika harus keluar, gunakan respirator seperti N95 atau KN95 yang terpasang rapat untuk membantu menyaring partikel halus. Apabila tidak tersedia, dapat menggunakan masker medis atau masker kain secara berlapis agar lebih efektif menyaring udara.
Khusus untuk bayi dan balita, sebaiknya dilindungi dengan mengurangi paparan asap, bukan mengandalkan masker.
“Jika keluhan menetap dan mengganggu keseharian, segera konsultasikan dengan tenaga medis/kesehatan, jangan tunggu memburuk,” ujar Aji.



















