Jakarta, 15 Agustus 2026 – Di tengah pesatnya kemajuan teknologi medis, terapi lintah atau hirudoterapi justru kembali mendapat tempat di hati masyarakat. Klaim tentang kemampuannya membantu penyembuhan stroke, jantung, diabetes, hingga gangguan paru-paru memang terdengar spektakuler. Namun, di balik popularitasnya, metode ini menyimpan fakta medis yang perlu dipahami dengan bijak.
Dosen Ilmu Biomedik Fakultas Kedokteran IPB University, Sera Budi Verinda, menjelaskan bahwa hirudoterapi bukanlah sekadar praktik alternatif. Ia diakui dalam dunia medis modern karena kandungan bioaktif dalam air liur lintah, terutama untuk membantu pasien pasca operasi rekonstruksi dan mencegah pembekuan darah. “Saya hanya merekomendasikannya jika pengobatan konvensional tidak berhasil atau tidak memungkinkan,” tegas Sera, menekankan bahwa setiap keputusan menjalani terapi ini harus melalui diskusi dengan dokter.
Klaim dari Lapangan dan Dukungan Penelitian
Praktisi terapi lintah di berbagai daerah melaporkan pengalaman positif, terutama untuk kasus-kasus yang berkaitan dengan kelancaran sirkulasi darah. Beberapa pasien dengan luka diabetes atau keluhan jantung mengaku merasakan perbaikan setelah menjalani terapi rutin. Klaim ini ternyata tidak sepenuhnya tanpa dasar. Berdasarkan informasi dari laman resmi Kementerian Kesehatan, terapi lintah telah diakui dalam Standar Intervensi Keperawatan Indonesia (SIKI) karena studi ilmiahnya yang terbukti.
Penelitian menunjukkan bahwa air liur lintah mengandung hirudin yang berfungsi sebagai antikoagulan. Senyawa ini membantu melancarkan aliran darah dan mencegah pembekuan, yang sangat bermanfaat bagi penderita gangguan kardiovaskular dan diabetes. Bahkan, untuk kasus amputasi atau bedah rekonstruksi, terapi lintah terbukti membantu meningkatkan kelangsungan hidup jaringan yang dicangkok.
Pentingnya Pengawasan Dinas Kesehatan
Meskipun potensinya besar, terapi lintah bukan tanpa risiko. Praktik ini harus diawasi oleh Dinas Kesehatan setempat karena melibatkan kontak dengan darah, sehingga berisiko menularkan infeksi jika tidak dilakukan dengan standar higienitas yang ketat. “Pengawasan dari Dinas Kesehatan adalah keharusan. Ini untuk memastikan bahwa praktisi menggunakan lintah medis yang dibiakkan di laboratorium (Hirudo medicinalis), bukan lintah liar yang bisa membawa bakteri berbahaya,” ujar seorang praktisi yang ditemui di Bekasi.
Pentingnya Pembinaan bagi Praktisi
Sebagai respons atas maraknya praktik ini, pemerintah perlu mendorong adanya pembinaan bagi para praktisi terapi lintah. Pembinaan ini bertujuan untuk menyamakan standar prosedur, meningkatkan pemahaman tentang kontraindikasi, serta memastikan setiap terapi dilakukan dengan aman.
Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa praktik yang tidak terstandar dapat menyebabkan efek samping serius, seperti perdarahan berkepanjangan, reaksi alergi, hingga infeksi bakteri yang resisten terhadap antibiotik. Pengetahuan kesehatan yang memadai bagi praktisi menjadi kunci agar terapi ini memberi manfaat optimal tanpa membahayakan pasien. Masyarakat pun diimbau untuk selalu berkonsultasi dengan dokter sebelum memutuskan menjalani terapi ini.






