News, 17 Agustus 2026 – Di tengah gegap gempita perayaan HUT ke-81 RI, kegelisahan justru menghantui sejumlah anak muda. Bagi sebagian Gen Z, kata “merdeka” terasa masih asing di telinga, bahkan sekadar euforia belaka yang tak membawa mereka ke mana-mana, termasuk menuju masa depan yang lebih menjanjikan .
Mahasiswa tingkat akhir di Bandung, Gilang Fathu Romadhan, selalu mempertanyakan ulang arti kemerdekaan setiap kali momen perayaan di depan mata. Menurutnya, hari kemerdekaan bukan hanya soal perayaan, melainkan momen untuk melihat apakah kemerdekaan itu sudah dirasakan semua orang atau belum . “Merdeka” yang ia idamkan adalah hidup layak dan bebas berpendapat tanpa dibayangi rasa takut terhadap pemerintah, serta punya kesempatan menentukan masa depan sendiri tanpa intervensi dari negara .
Gilang menyoroti kondisi ekonomi anak muda saat ini yang tertekan oleh biaya hidup tinggi dan kesempatan bursa kerja yang sulit. Janji pemerintah tentang belasan juta lapangan kerja, menurutnya, masih sebatas bualan. Bahkan ketika sudah mendapatkan pekerjaan, generasinya dihadapkan pada pengupahan yang jauh dari layak. “Janji 19 juta lapangan pekerjaan juga belum kelihatan tuh, yang ada kita butuh Rp19 juta buat DP rumah,” kelakarnya .
Indah Permatasari, perempuan berusia 20 tahun yang sudah bekerja sebagai pegawai toko aksesori, juga merasakan hal serupa. Baginya, generasi muda kebanyakan belum bebas secara finansial. Bahkan sebagai penerima upah minimum kota, ia masih dirundung rasa khawatir dengan harga kebutuhan pokok yang semakin meninggi. “Beban pikiran kita merasa makin hari makin jauh dari merdeka,” ujarnya .
Merdeka dari Rasa Takut
Selain ekonomi, rasa takut juga menjadi bayang-bayang yang menghantui. Gilang menilai bahwa negara tidak boleh menjadi pihak yang antikritik. Baginya, jika ada orang yang merasa belum merdeka karena kondisi ekonomi atau karena masih banyak hal yang tidak bisa dilakukan dengan bebas, itu harus menjadi bahan evaluasi negara . Rasa takut ini juga mengemuka dalam kasus seorang warga di Bogor yang enggan memasang bendera, yang menurutnya justru menunjukkan bahwa kebebasan berpikir dan berekspresi masih terbatas .
Harapan di Tengah Keresahan
Meski dilanda kegelisahan, mereka tetap berharap pada perubahan. Bagi anak-anak muda ini, momen kemerdekaan harus dimaknai lebih dari sekadar seremoni. Mereka berharap agar kemerdekaan yang sesungguhnya—bebas dari kemiskinan, kebodohan, dan rasa takut—bisa benar-benar dirasakan oleh seluruh rakyat Indonesia .






