Jombang, 22 Agustus 2026 – Forum Ulama Nusantara (FUN) menolak segala bentuk suap dan praktik ‘serangan fajar’ dalam pelaksanaan Muktamar ke-36 Nahdlatul Ulama (NU) yang akan digelar di Jombang pada 27-31 Agustus 2026. Pernyataan ini disampaikan oleh 550 kiai yang tergabung dalam forum tersebut sebagai bentuk komitmen menjaga marwah organisasi.
Koordinator FUN, KH. Mustofa Bisri, menegaskan bahwa muktamar merupakan forum musyawarah tertinggi yang harus berjalan sesuai dengan nilai-nilai keagamaan dan keadilan. “Kami menolak keras praktik-praktik yang mencederai integritas muktamar. Tidak ada ‘serangan fajar’ yang bisa membeli suara ulama,” ujarnya.
‘Serangan Fajar’ dan Mekanisme Muktamar
‘Serangan fajar’ merujuk pada praktik pemberian uang atau barang menjelang hari pencoblosan untuk mempengaruhi pilihan peserta muktamar, seperti yang terjadi pada pemilihan umum. Praktik ini dianggap bertentangan dengan semangat demokrasi dan nilai-nilai keagamaan yang dijunjung tinggi oleh NU.
Muktamar NU akan dihadiri oleh ribuan peserta yang akan memilih ketua umum dan kepengurusan baru. Untuk mencegah praktik curang, forum ulama mendorong panitia dan seluruh peserta untuk bersikap transparan dan mematuhi aturan yang telah ditetapkan.
Dukungan dan Harapan
FUN berharap Muktamar NU kali ini dapat menghasilkan kepemimpinan yang membawa kemaslahatan bagi umat dan bangsa. Para ulama yang hadir berkomitmen untuk menjaga independensi mereka dalam memilih pemimpin yang terbaik.
“Kami ingin muktamar ini melahirkan pemimpin yang amanah dan mampu membawa NU ke arah yang lebih baik,” pungkas KH. Mustofa Bisri.
Pernyataan tegas dari 550 kiai ini menjadi sinyal bahwa NU tidak akan membiarkan kepentingan sesaat mengganggu proses demokrasi di dalam organisasi. Muktamar NU diharapkan menjadi contoh musyawarah yang bersih dan bermartabat.





