Jakarta, 9 Agustus 2026 – Nama dr. Tirta Mandira Hudhi angkat bicara soal viralnya komentar sejumlah tenaga kesehatan (nakes) yang menghina pasien BPJS bernama Yurizal Tri Chaerawan di media sosial. Dokter sekaligus pegiat medsos itu meminta rekan sejawatnya untuk lebih bijak dalam bermedia sosial dan tidak meremehkan kekuatan komunikasi publik .
Kasus ini bermula dari keluhan Yurizal yang dibuat di akun Threads pribadinya. Ia mengeluh soal pelayanan rawat inap yang tak kunjung didapat setelah menunggu berjam-jam. Unggahan itu viral, tetapi justru dibalas dengan komentar negatif dan nirempati dari oknum nakes . Beberapa di antaranya bahkan menyebut Yurizal “kurang kerjaan”.
“Burnout Bukan Alasan!”
Ikatan Dokter Indonesia (IDI) sempat menyebut bahwa perilaku nakes tersebut bisa dipicu oleh kelelahan emosional alias burnout . Namun, dr. Tirta menolak mentah-mentah alasan tersebut. Menurutnya, burnout adalah hal wajar yang dialami semua orang, dari kuli bangunan hingga tukang becak. Namun, itu tidak bisa menjadi pembenaran untuk menghina pasien.
“Kalau kamu stres di Threads, ya kamu jangan main Threads. Diam aja! Pada dasarnya apa yang terjadi di Threads itu udah salahnya sejawat. Jadi kalian nggak perlu ngalor-ngidul alesan,” tegas dr. Tirta .
Ia menegaskan, kasus ini murni tentang pasien yang komplain dan oknum nakes yang membalas dengan komentar buruk. “Pasien memiliki hak untuk komplain. Sebagai penyedia jasa, tugas kita memberikan penjelasan yang baik, se-simple itu,” tambahnya .
“Dokter Jangan Jumawa, Belajar Komunikasi!”
Dalam kesempatan itu, dr. Tirta juga mengingatkan agar para dokter spesialis tidak meremehkan ilmu komunikasi. Menurutnya, banyak dokter yang jago secara medis, tetapi gagal dalam berkomunikasi dengan pasien, apalagi di ranah digital .
“Masih ingat banget di kepala saya tahun 2023, mayoritas dokter spesialisnya selalu menggampangkan ‘halah guru medsos, gampang lah’. Kalian itu tidak bisa menolak namanya perkembangan teknologi,” ujar dr. Tirta.
Ia menyoroti bahwa saat ini masyarakat mengecek reputasi dokter melalui Google dan media sosial. Jejak digital seorang dokter, termasuk komentarnya, akan menjadi penilaian publik. “Sekarang masyarakat Indonesia mengecek dokter melalui Google, AI, lewat LinkedIn, lewat media sosial. Jadi ketika kalian sudah berkomentar di media sosial, otomatis komentar tersebut menjadi milik publik,” pungkas dr. Tirta .
Pelajaran Berharga bagi Nakes dan Publik
Kasus ini telah berujung pada sanksi hingga pemecatan terhadap sejumlah nakes yang terlibat. Kementerian Kesehatan juga mengecam keras perilaku tersebut dan mengingatkan pentingnya etika dalam bermedia sosial bagi tenaga kesehatan . Kini, publik berharap peristiwa ini menjadi pelajaran bagi semua pihak, baik nakes maupun pasien, agar lebih bijak dalam berinteraksi dan menggunakan media sosial.






