Jakarta, 8 Agustus 2026 – Presiden Prabowo Subianto menginstruksikan pembaruan menyeluruh terhadap buku ajar nasional dari jenjang SD hingga SMA. Instruksi ini berawal dari kunjungan langsung Presiden ke sejumlah sekolah, di mana ia mendapati buku pelajaran berkualitas rendah dengan tulisan yang terlalu kecil .
Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya menjelaskan bahwa Presiden melihat sendiri buku-buku yang digunakan siswa. “Kok ada yang bahannya mudah rusak, ada yang sudah rusak juga, kemudian tulisannya kecil-kecil, sehingga anak-anak SD khususnya bacanya sangat dekat,” ujarnya di Istana Kepresidenan, Jumat (7/8/2026) .
Berdasarkan temuan tersebut, Prabowo memerintahkan perbandingan kualitas buku ajar Indonesia dengan negara tetangga seperti Singapura, Malaysia, Thailand, dan Vietnam untuk dijadikan bahan evaluasi .
Fokus Perbaikan Buku Ajar
Perbaikan meliputi dua aspek utama :
- Kualitas Fisik: Ukuran huruf diperbesar agar nyaman dibaca, bahan buku lebih awet dan tidak mudah rusak, serta desain lebih menarik.
- Kualitas Materi: Penyusunan ulang materi dengan tiga fokus utama: penguatan nilai nasionalisme dan kebangsaan, peningkatan kemampuan matematika dan sains, serta peningkatan kemampuan bahasa Inggris untuk bersaing secara global .
Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi menambahkan bahwa pembaruan ini bukan sekadar perubahan fisik, tetapi juga upaya menumbuhkan kembali budaya membaca dan menulis di kalangan pelajar. “Jangan dianggap era jadul karena di Eropa mengurangi gadget dan kembali ke buku fisik,” ujarnya .
Tim gabungan antar kementerian yang melibatkan Kemendikdasmen, Kementerian Riset dan Teknologi, serta BRIN telah dibentuk dan menargetkan penyusunan buku ajar baru rampung pada akhir 2026 atau paling lambat tahun depan .






