Jakarta, 18 Oktober 2026 – Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamendiktisaintek), Stella Christie, menegaskan bahwa pendidikan di perguruan tinggi harus lebih adaptif terhadap perubahan zaman. Menurutnya, kurikulum dan metode pembelajaran tidak boleh stagnan, melainkan harus terus menyesuaikan diri dengan kebutuhan industri dan perkembangan teknologi.
“Pendidikan tinggi tidak bisa lagi hanya berpegang pada kurikulum yang itu-itu saja. Dunia berubah sangat cepat, dan kampus harus menjadi bagian dari perubahan itu, bukan justru tertinggal,” ujar Stella dalam pembukaan Konferensi Nasional Pendidikan Tinggi di Jakarta, Sabtu (17/10/2026).
Tiga Pilar Adaptasi
Stella memaparkan tiga pilar utama yang harus menjadi perhatian perguruan tinggi. Pertama, kurikulum berbasis kompetensi yang relevan dengan dunia kerja. Ia mendorong kampus untuk melibatkan industri dalam penyusunan kurikulum agar lulusan memiliki keterampilan yang dibutuhkan pasar.
Kedua, penguatan literasi digital dan kecerdasan artifisial (AI). Menurutnya, setiap lulusan perguruan tinggi harus memahami dan mampu memanfaatkan teknologi AI secara etis dan produktif, apa pun bidang studinya.
Ketiga, pembelajaran berbasis proyek dan pengalaman nyata. Stella menilai bahwa mahasiswa tidak cukup hanya belajar di ruang kelas, tetapi juga harus terlibat dalam riset terapan, magang, dan kerja sama dengan masyarakat.
Kolaborasi dengan Industri
Stella menyoroti pentingnya kolaborasi antara kampus dan industri. Ia mendorong program magang bersertifikat, dosen praktisi, hingga riset bersama antara perguruan tinggi dan perusahaan.
“Kampus tidak bisa berjalan sendiri. Kita butuh ekosistem yang menghubungkan pendidikan, riset, dan industri. Ini yang akan mempercepat transfer pengetahuan dan teknologi,” tegasnya.
Ia juga mendorong penguatan program studi yang berorientasi pada kebutuhan strategis nasional, seperti pangan, energi, kesehatan, dan teknologi digital.
Dosen dan Tenaga Kependidikan
Stella menekankan bahwa adaptasi pendidikan tinggi tidak akan berhasil tanpa dukungan dosen yang kompeten. Ia mendorong peningkatan kualitas dosen melalui pelatihan, sertifikasi, dan kesempatan mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan terbaru.
“Dosen adalah ujung tombak. Mereka harus terus belajar, bukan hanya mengajar. Kampus harus memfasilitasi itu,” ujarnya.
Dukungan Pemerintah
Wamendiktisaintek memastikan pemerintah terus mendukung upaya perguruan tinggi dalam beradaptasi. Dukungan tersebut mencakup pendanaan riset, beasiswa, kerja sama internasional, serta penyediaan infrastruktur pembelajaran yang memadai.
“Kami akan terus bekerja sama dengan perguruan tinggi untuk memastikan pendidikan tinggi Indonesia semakin kompetitif dan relevan dengan kebutuhan bangsa,” pungkasnya.





















