
JAKARTA — Kapolda Metro Jaya Irjen Pol. Asep Edi Suheri memberikan penghargaan kepada Rahmat Fauzi, seorang pengemudi ojek online (ojol) yang juga anggota Ojol Kamtibmas. Rahmat menggagalkan aksi pencurian kendaraan bermotor di kawasan Cakung, Jakarta Timur, dengan keberanian dan kepedulian yang jarang ditemukan.
“Pagi tadi, kita memberikan penghargaan kepada rekan kita, Pak Rahmat Fauzi, mitra Ojol Kamtibmas yang telah membantu polisi menggagalkan pencurian motor,” ujar Kapolda Asep di Jakarta, Senin (3/11/2025). Ia menegaskan, penghargaan itu bukan hanya bentuk apresiasi, tetapi juga pengakuan terhadap peran nyata masyarakat dalam menjaga keamanan kota.
Program Ojol Kamtibmas sendiri merupakan gagasan Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo untuk mengajak pengemudi ojek online menjadi mitra aktif Polri dalam menjaga keamanan, ketertiban, serta pencegahan kejahatan di lingkungan masyarakat. Ribuan pengemudi ojol telah terlibat dalam gerakan ini sejak dicanangkan secara nasional di Monas, Jakarta, pekan lalu.
Langkah Rahmat Fauzi menjadi simbol bahwa keamanan bukan monopoli aparat. Ia membuntuti pelaku curanmor hingga ke wilayah Kelapa Gading, sebelum akhirnya berhasil menggagalkan aksi kejahatan tersebut. Polisi kemudian mengamankan barang bukti dan menangkap pelaku utama. “Beliau berhasil mengamankan barang bukti dan membantu polisi menangkap pelaku. Ini sungguh luar biasa,” kata Kapolda Asep.
Jaringan Aktivis Nusantara (JAN) menilai tindakan Rahmat Fauzi dan respon cepat Kapolda Metro Jaya menunjukkan wajah baru hubungan antara rakyat dan polisi. “Ini bukan sekadar penghargaan simbolik. Ini bukti bahwa Polri benar-benar membuka ruang bagi masyarakat untuk menjadi bagian dari keamanan,” ujar Romadhon Jasn, Ketua JAN.
Menurut JAN, inisiatif seperti Ojol Kamtibmas memperkuat semangat gotong royong dalam menjaga kota. Polisi kini tidak lagi berdiri di menara pengawasan, melainkan berjalan bersama rakyat di jalan-jalan kota. “Kapolda Asep menunjukkan bahwa keamanan tumbuh dari kepercayaan, bukan ketakutan,” lanjut Romadhon Jasn.
Program ini juga menandai transformasi Polri menuju institusi yang lebih partisipatif dan humanis. Rakyat tidak lagi menjadi penonton dalam keamanan publik, tetapi aktor penting yang diajak berpikir, berinisiatif, dan bertanggung jawab. “Sinergi ini adalah reformasi kultural yang nyata. Polisi mendengarkan rakyat, rakyat ikut menjaga polisi,” kata Romadhon Jasn.
JAN menegaskan, tindakan Kapolda Asep memberi sinyal penting di tengah meningkatnya kebutuhan rasa aman di kota besar seperti Jakarta. Keamanan kini dibangun bukan hanya dari patroli berseragam, tetapi dari kesadaran sipil yang hidup di tengah masyarakat.
“Keberanian Rahmat adalah cermin keberhasilan Polri menanamkan rasa tanggung jawab bersama. Dan di sinilah wajah baru Jakarta: rakyat dan polisi tidak lagi berjarak, mereka saling menjaga,” tutup Romadhon Jasn.





