Jakarta, 4 Agustus 2026 – Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengungkapkan sejak dirinya menjabat banyak lembaga asing hingga ekonom yang menyerang dirinya. Mereka, menurut Purbaya, mengatakan bahwa dirinya tidak menjalankan kebijakan fiskal dengan baik. Padahal, kata Purbaya, dia harus mendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia lebih tinggi secara cepat. Terbukti, pertumbuhan ekonomi Indonesia tumbuh hingga mencapai 5,61% pada kuartal I-2026 .
“Jadi ekonomi membaik secara signifikan tetapi ekonom dan institusi asing selalu bilang saya tidak cukup pintar menjalankan kebijakan ekonomi yang baik. Mereka salah, saya pintar,” ujar Purbaya dalam acara GIIAS 2026, Selasa (4/8/2026) .
Tak hanya itu, dia menyoroti perihal ramai isu di media sosial yang mengatakan Indonesia diwarnai serangan shock ekonomi dalam beberapa bulan terakhir, mulai dari likuiditas ketat, penilaian lembaga pemeringkat kredit MSCI yang memicu gejolak di pasar dan revisi outlook peringkat kredit RI dari Fitch Ratings, serta tekanan rupiah. Empat guncangan sekaligus ini mampu dilewati Indonesia. Ini sekaligus membuktikan ketahanan ekonomi Indonesia yang jauh lebih kuat dibandingkan sebelumnya .
Gelombang Kritik dan Serangan Lembaga Asing
Sejak awal 2026, Indonesia memang mendapat serangkaian sentimen negatif dari lembaga-lembaga internasional. Pada Januari 2026, MSCI membekukan perubahan indeks untuk saham Indonesia karena kekhawatiran soal transparansi kepemilikan dan free float, serta memperingatkan kemungkinan penurunan status dari emerging market ke frontier market .
Pada Februari 2026, Moody’s mempertahankan peringkat Indonesia di Baa2 tetapi mengubah outlook menjadi negatif, diikuti oleh Fitch pada Maret 2026 yang juga merevisi outlook menjadi negatif . “Setelah kami memperbaiki semuanya, datang perang Iran. Setelah itu, mereka tidak menyukai saya. Katanya Menteri Keuangan tidak cukup handal,” papar Purbaya dalam bahasa Inggris .
Respons dan Keyakinan Purbaya
Meski dihujani kritik, Purbaya tetap optimistis. Ia menegaskan Indonesia menjalankan kebijakan fiskal yang sangat baik di tengah ketidakpastian global. “Di tengah gejolak ekonomi dan politik, buktinya RI masih bisa tumbuh di atas 5%. Ini capaian yang sangat bagus,” tegasnya .
Dalam pertemuan dengan IMF pada akhir April 2026, Purbaya bahkan mengaku menyebut dirinya sebagai menteri keuangan paling tidak beruntung di dunia. Namun, ia menolak tawaran pinjaman IMF senilai 20-30 miliar dolar AS dengan alasan kondisi fiskal yang masih solid.






