Prabowo Prihatin 30 Persen Anak RI Stunting pada 2006

Jakarta, 13 Oktober 2026 – Presiden Prabowo Subianto mengungkapkan keprihatinannya atas data yang menunjukkan sekitar 30 persen anak Indonesia mengalami stunting pada tahun 2006. Data tersebut, menurutnya, menjadi gambaran pahit yang mencerminkan besarnya tantangan pembangunan sumber daya manusia di masa lalu.

Hal ini disampaikan Prabowo saat menghadiri acara Peluncuran Gerakan Intervensi Serentak Pencegahan Stunting di Jakarta, Senin (12/10/2026). Ia menekankan bahwa angka tersebut bukan sekadar statistik, melainkan cerminan dari masa depan generasi yang terancam.

“Kalau 30 persen anak-anak kita stunting, artinya hampir sepertiga generasi kita kehilangan potensi optimalnya. Ini bukan persoalan kecil,” ujar Prabowo.

Stunting dan Daya Saing Bangsa

Prabowo menjelaskan bahwa stunting berdampak pada penurunan kualitas sumber daya manusia yang pada akhirnya memengaruhi daya saing bangsa. Anak yang stunting, kata dia, berisiko memiliki kemampuan kognitif yang lebih rendah, produktivitas yang lebih minim, dan rentan terhadap penyakit.

“Ini bukan hanya soal tinggi badan. Ini soal otak, kecerdasan, dan masa depan. Kita kehilangan potensi besar jika anak-anak kita tumbuh tidak optimal,” tegasnya.

Ia menyebutkan bahwa angka stunting yang tinggi pada masa lalu menjadi salah satu penyebab mengapa Indonesia masih tertinggal dalam beberapa indikator pembangunan manusia dibandingkan negara tetangga.

Penurunan Signifikan, Namun Tetap Waspada

Meski begitu, Prabowo mengapresiasi upaya pemerintah yang berhasil menurunkan angka stunting dari sekitar 30 persen pada 2006 menjadi sekitar 21,5 persen pada 2025. Namun, ia menegaskan bahwa angka tersebut masih jauh dari target yang diharapkan.

“Kita sudah turun, tapi belum cukup. Target kita di bawah 10 persen. Ini harus kita kejar bersama-sama,” ujarnya.

Pemerintah, lanjut Prabowo, telah menetapkan percepatan penurunan stunting sebagai salah satu program prioritas nasional. Berbagai langkah dilakukan, mulai dari intervensi gizi spesifik dan sensitif, peningkatan akses air bersih dan sanitasi, hingga penguatan posyandu dan pendampingan keluarga.

Gerakan Intervensi Serentak

Dalam acara tersebut, Prabowo meluncurkan Gerakan Intervensi Serentak Pencegahan Stunting yang akan dilaksanakan di seluruh Indonesia. Gerakan ini melibatkan kementerian, lembaga, pemerintah daerah, hingga tingkat desa dan posyandu.

“Kita harus turun ke lapangan. Jangan hanya rapat di Jakarta. Saya minta seluruh jajaran, mulai dari pusat sampai desa, bergerak serentak,” tegas Prabowo.

Gerakan ini menyasar kelompok prioritas, yaitu ibu hamil, ibu menyusui, anak usia di bawah dua tahun, dan remaja putri. Intervensi dilakukan melalui pemeriksaan kesehatan, pemberian makanan tambahan, suplementasi gizi, serta edukasi pola asuh dan gizi seimbang.

Dukungan dari Berbagai Pihak

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menyatakan dukungan penuh terhadap gerakan ini. Menurutnya, penurunan stunting membutuhkan kerja sama lintas sektor dan partisipasi seluruh masyarakat.

“Stunting bukan hanya tanggung jawab Kementerian Kesehatan. Ini tanggung jawab kita semua,” ujar Budi.

Kalangan organisasi masyarakat dan dunia usaha juga menyatakan komitmennya untuk mendukung percepatan penurunan stunting. Mereka menawarkan bantuan berupa program gizi, pelatihan kader posyandu, hingga pendampingan keluarga berisiko.

Harapan ke Depan

Prabowo berharap gerakan ini dapat membuahkan hasil signifikan dalam beberapa tahun ke depan. Ia menegaskan bahwa pemerintah tidak akan berhenti berinvestasi di bidang gizi dan kesehatan masyarakat.

“Investasi terbaik adalah investasi pada manusia. Kalau anak-anak kita sehat dan cerdas, Indonesia akan kuat,” pungkasnya.


Jakarta, 13 Oktober 2026
Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Terkait

Terbaru