Jakarta, 12 September 2026 – Koops TNI Habema memburu anggota Organisasi Papua Merdeka (OPM) yang menembak tiga aparatur sipil negara (ASN) Dinas Pertanian Kabupaten Jayawijaya hingga tewas di Distrik Muliama, Jayawijaya, Papua Pegunungan, pada Rabu (9/9/2026) .
Kapen Koops TNI Habema Letkol Inf Wirya Arthadiguna mengatakan, ketiga ASN itu menjadi korban penembakan ketika tengah menjalankan tugas untuk melayani masyarakat. “Kami akan terus berkoordinasi untuk mengungkap kejadian ini, mengejar para pelaku, dan menjaga masyarakat tetap terlindungi,” ujar Wirya dalam keterangannya, Sabtu (12/9/2026) .
Kronologi Penembakan
Penembakan terjadi sekitar pukul 15.53 WIT saat rombongan yang terdiri dari 11 pegawai Dinas Pertanian Kabupaten Jayawijaya dalam perjalanan kembali menuju Kota Wamena . Sebelumnya, mereka meninjau pelaksanaan kegiatan cetak sawah di Distrik Muliama . Rombongan tersebut kemudian diadang dan ditembaki oleh kelompok bersenjata .
Ketiga korban yang tewas adalah Aprida Rapi (AR) (49), Kepala Bidang Peternakan Dinas Pertanian Jayawijaya, yang mengalami luka tembak di bagian perut dan meninggal di lokasi . Alfonsius Albinus Meha (AAM) (35), pegawai Dinas Pertanian, mengalami luka tembak di kepala belakang dan tangan kiri serta meninggal di lokasi . Sementara Wili Mbuik (WB) (24/25), pegawai Dinas Pertanian, terkena tembakan di pinggang kanan dan sempat dilarikan ke RSUD Wamena sebelum akhirnya meninggal dunia .
Delapan orang lainnya berhasil selamat setelah berlindung di Puskesmas Muliama .
Olah TKP dan Identifikasi Pelaku
Polisi telah melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP) pada Kamis (10/9/2026) . Dari hasil olah TKP, petugas menemukan tiga selongsong peluru: dua berukuran 5,56 milimeter yang diduga amunisi senjata api laras panjang, dan satu kaliber 9 milimeter dari senjata api laras pendek .
Berdasarkan keterangan awal saksi, kelompok yang diduga melakukan penembakan berjumlah sekitar delapan orang, dua di antaranya membawa senjata api laras panjang . “Tentunya kita kejar, insya Allah kita dapat karena identitas pelaku sudah kita kantongi,” tegas Kasatgas Humas Operasi Damai Cartenz-2026 Kombes Yusuf Sutejo .
Dari rekaman video call yang dilakukan pelaku menggunakan ponsel korban, polisi mengidentifikasi dua terduga pelaku berinisial PN dan KT. Keduanya merupakan anggota TPNPB Ndugama yang masuk daftar pencarian orang (DPO) untuk beberapa kasus terorisme di wilayah Papua Pegunungan .
Klaim OPM dan Tudingan Intelijen
Juru Bicara Markas Pusat TPNPB, Sebby Sambom, mengklaim pihaknya bertanggung jawab atas penembakan tersebut . Ia menuding ketiga korban merupakan agen intelijen militer pemerintah Indonesia yang berprofesi sebagai ASN .
Tuduhan tersebut dibantah berbagai pihak, termasuk pemerintah daerah dan TNI . Wili Mbuik diketahui merupakan perempuan asal Rote Ndao, Nusa Tenggara Timur (NTT), yang lulus dengan predikat cumlaude dari Jurusan Agribisnis Universitas Nusa Cendana, Kupang, pada 2023. Ia memilih mengabdi di Papua setelah lulus seleksi CPNS pada 2024.
Teror kepada Keluarga Korban
Keluarga Wili Mbuik mengaku mendapat teror berupa panggilan telepon hingga video call dari orang tak dikenal yang diduga menggunakan ponsel milik korban. Paman korban, Johanis Baba, mengatakan sejumlah anggota keluarga di Rote Ndao, NTT, menerima panggilan dari nomor yang tersimpan di telepon seluler Wili.
Dalam rekaman percakapan yang beredar, pihak yang diduga sebagai pelaku bahkan disebut tertawa saat berkomunikasi dengan keluarga korban. Percakapan tersebut juga memuat ancaman bahwa aksi serupa akan kembali dilakukan.
Respons dan Penegakan Hukum
Anggota Komisi XIII DPR RI, Mafirion Syamsuddin Rogo, menilai tewasnya tiga pegawai Dinas Pertanian tersebut sebagai pelanggaran hak asasi manusia berat. “Pemerintah harus bertindak tegas terhadap pihak-pihak yang secara sengaja menghilangkan nyawa warga sipil yang tidak berdosa,” kata Mafirion .
Sebanyak 50 personel tambahan dari Timika telah dikerahkan menuju Jayawijaya untuk mendukung upaya pengejaran terhadap pelaku. Aparat juga memperketat pengamanan di wilayah sekitar lokasi kejadian untuk menjaga keamanan masyarakat.
Koops TNI Habema mengajak masyarakat untuk tetap tenang, tidak mudah terprovokasi oleh informasi yang belum terverifikasi, serta bersama-sama menjaga keamanan lingkungan. “Keamanan bukan tujuan akhir. Keamanan adalah ruang agar petugas dapat melayani, guru dapat mengajar, tenaga kesehatan dapat bekerja, masyarakat dapat beraktivitas, dan anak-anak Papua tetap dapat mengejar masa depannya,” pungkas Wirya.




















