Warning: Attempt to read property "child" on null in /home/anandapu/visioner.id/wp-content/themes/jnews/class/ContentTag.php on line 45
Indonesia Visioner
  • BERANDA
  • PERISTIWA
  • POLHUM
  • EKONOMI
  • VIDEO
  • ENTERTAINMENT
  • LUAR NEGERI
  • LIPUTAN DISKUSI
  • LIFESTYLE
  • RESENSI
  • SPORT
  • OPINI
  • INDEKS
No Result
View All Result
Indonesia Visioner
No Result
View All Result

MENJAGA HUTAN, MENGHIDUPKAN DESA: Gerakan “Hutan Asuh” Girijaya Menyulap Camping Ground Menjadi Laboratorium Konservasi

by Visioner Indonesia
Agustus 2, 2026
in Daerah, Lifestyle, serba serbi
Reading Time: 7min read
MENJAGA HUTAN, MENGHIDUPKAN DESA: Gerakan “Hutan Asuh” Girijaya Menyulap Camping Ground Menjadi Laboratorium Konservasi
0
SHARES
16
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

SUKABUMI, – 🏕️ RIMBA YANG MENGAJAR: Konservasi ala Girijaya

Sore itu Sabtu (25/7/2026), langit Sukabumi menyapa dengan gradasi jingga yang merambat di balik pepohonan damar yang menjulang. Di tengah hamparan hijau seluas 4 hektar di Blok Cangkuang, Desa Girijaya, sebuah perjalanan baru sedang dirintis. Bukan sekadar wisata alam, melainkan sebuah gerakan konservasi yang melibatkan setiap orang yang datang.

Empat hektar lahan di kaki Gunung Salak itu kini tengah dalam proses pengajuan resmi ke Balai Taman Nasional Gunung Halimun Salak (TNGHS) melalui skema Kemitraan Konservasi yang diatur dalam Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor 14 Tahun 2023. Jika disetujui, ini akan menjadi salah satu dari sekian banyak kawasan yang dikelola masyarakat secara legal di dalam kawasan konservasi—sebuah langkah besar yang telah dirintis oleh 15 Kelompok Tani Hutan (KTH) di TNGHS sejak April 2023 lalu.


📜 DARI SK BUPATI KE HUTAN KONSERVASI

Desa Girijaya, Kecamatan Cidahu, Kabupaten Sukabumi, telah resmi ditetapkan sebagai Desa Wisata melalui Surat Keputusan Bupati Sukabumi pada 13 Mei 2026. Penetapan ini menjadi fondasi legal yang kuat bagi desa untuk mengembangkan potensi wisata berbasis alam, budaya, dan religi—tiga pilar yang oleh masyarakat setempat disebut sebagai “Triloka Girijaya“.

Langkah ini merupakan tindak lanjut dari penelitian dan pendampingan yang dilakukan oleh IPB University melalui program Dosen Pulang Kampung pada Juni-Juli 2024. Tim IPB membantu memetakan potensi desa, merumuskan konsep wisata rendah karbon, serta melatih masyarakat dalam pemasaran digital dan penataan lanskap. Namun, eksekusi berkelanjutan membutuhkan kerja nyata dari semua pihak.

Kini, KTH Triloka Nusantara Girijaya—yang telah disahkan melalui SK Kepala Desa pada 22 Desember 2025—bergerak mengawal proses perizinan dan pengelolaan. Bersama Yayasan Triloka Nusantara dan komunitas JagoAdventure, mereka meracik “resep” pariwisata baru: camping ground berbasis rehabilitasi hutan, yang mereka sebut dengan konsep “Hutan Asuh”.


🌱 SETIAP TAMBAHAN ADALAH PENANAM HARAPAN

Di bawah tenda yang didirikan di tengah kawasan, diskusi panjang berlangsung hingga larut malam. Andik dari tim JagoAdventure melempar gagasan sederhana namun revolusioner: setiap pengunjung yang datang wajib menanam satu bibit pohon sebelum mereka menikmati keindahan alam Girijaya.

“Kami bukan sekadar membawa orang ke alam liar,” ujar Andik. “Kami ingin menjadi bagian dari solusi konservasi yang nyata. Setiap pohon yang ditanam adalah kenangan yang akan terus tumbuh dan bermanfaat bagi generasi mendatang.”

Gagasan itu mendapat sambutan hangat. Kang Ooi—pemuda desa sekaligus pengurus KTH Triloka Nusantara—langsung merespons dengan kesiapan kelompoknya menyediakan bibit pohon endemik seperti damar, saninten, dan puspa secara gratis.

“Kami di KTH sudah siap,” kata Kang Ooi. “Kami akan membimbing pengunjung menanam dan merawatnya. Ketika mereka datang kembali setahun kemudian, mereka akan melihat tanaman yang mereka tanam sendiri tumbuh besar. Itu adalah hadiah terbaik bagi kami dan alam.”


đź’š ALAM ADALAH OBAT: Terapi Holistik di Tengah Hutan

Malam semakin larut. Di samping api unggun, Kang Giri Tirta—pemuda desa yang juga ahli terapis alternatif pengobatan holistik—menambahkan dimensi baru pada diskusi.

“Alam dan kesehatan itu satu kesatuan,” ujarnya dengan tenang. “Ketika kita merawat hutan, kita sebenarnya sedang merawat paru-paru dunia. Udara segar, air bersih, dan ketenangan yang didapat dari camping di sini adalah obat alami yang tak ternilai. Ini bukan sekadar wisata. Ini adalah terapi.”

Pandangannya membuka mata bahwa konservasi bukan hanya soal ekologi, tetapi juga tentang kesehatan manusia secara holistik. Kawasan TNGHS yang memiliki luas sekitar 113.359 hektar memang menjadi paru-paru bagi Sukabumi dan sekitarnya. Di tempat inilah, hutan dan manusia bisa saling menyembuhkan.


👥 PEMUDA DESA SEBAGAI GARDA TERDEPAN

Tak ketinggalan, Encing—seorang praktisi peduli lingkungan yang turut hadir dalam rombongan—memberi masukan yang menggelitik semangat.

“Program ini harus melibatkan pemuda desa setempat sejak awal. Mereka adalah ujung tombak keberlanjutan,” tegasnya. “Latih mereka menjadi pemandu wisata, pengelola kebun bibit, dan duta konservasi. Dengan begitu, ekonomi desa bergerak dan hutan tetap terjaga.”

Kata-kata Encing menjadi pengingat bahwa pemberdayaan masyarakat adalah kunci dari segala rencana besar. Konsep Hutan Asuh tidak akan berjalan tanpa keterlibatan aktif warga desa, terutama generasi muda yang akan mewarisi tanggung jawab menjaga kelestarian hutan.


🌿 DARI KONFLIK KE KOLABORASI

Kawasan Blok Cangkuang, lokasi lahan 4 hektar yang sedang diajukan, memiliki sejarah yang panjang. Di masa lalu, kawasan ini menjadi titik konflik tenurial dan penebangan liar. Lebih dari 15.000 pohon—termasuk damar dan pinus—ditebang secara ilegal, menyebabkan krisis air dan risiko bencana di tiga desa sekitarnya.

Kini, tempat yang sama menjadi simbol transformasi. Dari konflik ke kolaborasi, dari eksploitasi ke konservasi.

“Saya ingin orang-orang melihat Girijaya bukan hanya sebagai tempat liburan, tapi sebagai ruang yang butuh dijaga,” kata Kang Ooi. “Kami tidak menolak investasi atau pengunjung. Namun, kami ingin mereka datang dengan niat baik. Bukan untuk mengambil, tapi untuk belajar dan menjaga.”


🗺️ TAHAPAN MENUJU HUTAN ASUH

Perjalanan menuju terwujudnya Hutan Asuh tidaklah instan. Berdasarkan pengalaman KTH lain di TNGHS yang membutuhkan waktu 2-3 tahun pendampingan sebelum Perjanjian Kemitraan Konservasi ditandatangani, berikut tahapan yang sedang dijalani:

Tahap 1: Penguatan Kelembagaan (Sedang Berjalan)
KTH Triloka Nusantara telah terbentuk dengan SK Kepala Desa dan terafiliasi dengan Yayasan Triloka Nusantara. Pengurus aktif melakukan koordinasi dengan Balai TNGHS dan Dinas Kehutanan.

Tahap 2: Pengajuan Kemitraan Konservasi (Proses)
Dokumen usulan sedang disusun, mencakup peta lahan partisipatif, daftar anggota KTH, dan rencana pengelolaan jangka panjang. Pengajuan akan dilakukan ke Balai TNGHS melalui mekanisme Perdirjen KSDAE Nomor P.6 Tahun 2018.

Tahap 3: Implementasi Agroforestri dan Wisata (Rencana)
Setelah PKS ditandatangani, KTH akan menjalankan program agroforestri (kombinasi pohon endemik dan produktif) serta memulai operasional camping ground berbasis konservasi dengan metode satu pengunjung satu pohon.

Tahap 4: Penguatan dan Keberlanjutan
Pembentukan Pokdarwis, pelatihan SDM, dan advokasi Peraturan Desa tentang Desa Wisata akan memastikan program tidak bergantung pada pergantian kepemimpinan desa.


DUKUNGAN

Pemerintah Kabupaten Sukabumi melalui Dinas Pariwisata telah mengalokasikan Bantuan Stimulan Desa Wisata untuk desa-desa yang telah ditetapkan melalui SK Bupati. Dana ini dapat digunakan untuk pengadaan perlengkapan camping, pelatihan SDM, dan pengembangan fasilitas pendukung—sesuai dengan rekomendasi dalam SK Bupati.

Selain itu, skema Kemitraan Konservasi memungkinkan KTH untuk mengelola lahan secara legal dengan model bagi hasil yang telah terbukti di KTH lain, misalnya 80% untuk petani dan 20% untuk Badan Usaha Milik Petani (BUMP) sebagai dana pengembangan kelompok.


📣 HARAPAN UNTUK MASA DEPAN

Sebelum pulang, rombongan kembali menatap lahan 4 hektar di Blok Cangkuang. Di atas tanah inilah, KTH Triloka Nusantara bekerja sama dengan Yayasan Triloka Nusantara dan JagoAdventure akan membangun sesuatu yang lebih besar dari sekadar tempat berkemah.

“Ini bukan sekadar tempat wisata,” kata Kang Ooi penuh harap. “Ini adalah gerakan. Dan setiap orang yang datang akan menjadi bagian darinya.”

“Semoga setiap orang yang datang ke sini pulang dengan hati yang lebih hijau,” pungkas Andik. “Menjadi bagian dari gerakan ini, bukan sekadar penikmat alam.”

Girijaya mengajarkan bahwa petualangan sejati bukanlah tentang meninggalkan jejak kaki, tetapi tentang menanam pohon dan menumbuhkan harapan. Gerakan Hutan Asuh akan terus tumbuh, berakar kuat, dan meninggalkan manfaat bagi alam, desa, dan setiap orang yang datang dengan niat baik.


🏷️ TENTANG GERAKAN HUTAN ASUH

Hutan Asuh adalah konsep pengelolaan wisata berbasis konservasi yang dikembangkan oleh KTH Triloka Nusantara Girijaya, Yayasan Triloka Nusantara, dan komunitas JagoAdventure. Konsep ini menjadikan setiap pengunjung sebagai bagian dari solusi konservasi melalui kewajiban menanam bibit pohon endemik. Dengan pendekatan ini, wisata tidak hanya memberikan manfaat ekonomi bagi desa, tetapi juga manfaat ekologis yang berkelanjutan.

Previous Post

KPPU Dalami Kasus Dugaan Monopoli hingga Predatory Pricing oleh TikTok

Next Post

Dijahit selama 3 Bulan, Bendera Merah Putih 600 Meter Membelah Kaki Gunung Arjuno

Related Posts

Dijahit selama 3 Bulan, Bendera Merah Putih 600 Meter Membelah Kaki Gunung Arjuno
Lifestyle

Dijahit selama 3 Bulan, Bendera Merah Putih 600 Meter Membelah Kaki Gunung Arjuno

Agustus 2, 2026
Ojol Ungkap Kejanggalan Penebangan Pohon di Jalan Riau Bandung, Dilakukan Tengah Malam
Daerah

Ojol Ungkap Kejanggalan Penebangan Pohon di Jalan Riau Bandung, Dilakukan Tengah Malam

Agustus 2, 2026
BGN Suspend SPPG Karangturi Usai 707 Orang Diduga Keracunan MBG
Lifestyle

BGN Suspend SPPG Karangturi Usai 707 Orang Diduga Keracunan MBG

Agustus 2, 2026
Sudaryono Minta Maaf kepada Korban Keracunan MBG, Janji Tanggung Biaya Pengobatan
Lifestyle

Sudaryono Minta Maaf kepada Korban Keracunan MBG, Janji Tanggung Biaya Pengobatan

Agustus 2, 2026
Investasi Rp1 Triliun, Kawasan Peternakan Ciangir Mulai Dibangun Akhir 2026
Lifestyle

Investasi Rp1 Triliun, Kawasan Peternakan Ciangir Mulai Dibangun Akhir 2026

Agustus 1, 2026
Koalisi Keberlanjutan Media Dibentuk, 20 Organisasi Satukan Langkah Selamatkan Jurnalisme
Lifestyle

Koalisi Keberlanjutan Media Dibentuk, 20 Organisasi Satukan Langkah Selamatkan Jurnalisme

Agustus 1, 2026

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

TERKINI

KPK Konstruksikan Dugaan Fee Rp3,5 Miliar dari Waskita untuk Eks Ketum HIPMI

Dijahit selama 3 Bulan, Bendera Merah Putih 600 Meter Membelah Kaki Gunung Arjuno

MENJAGA HUTAN, MENGHIDUPKAN DESA: Gerakan “Hutan Asuh” Girijaya Menyulap Camping Ground Menjadi Laboratorium Konservasi

KPPU Dalami Kasus Dugaan Monopoli hingga Predatory Pricing oleh TikTok

Feri Amsari Sebut Kabinet Bayangan Akan Lakukan Checks and Balances terhadap Kinerja Pemerintah

Mahfud MD: Kritik URI, Soroti Kasus Hukum, dan Seruan Keadilan

TERPOPULER

KPK Konstruksikan Dugaan Fee Rp3,5 Miliar dari Waskita untuk Eks Ketum HIPMI

Dijahit selama 3 Bulan, Bendera Merah Putih 600 Meter Membelah Kaki Gunung Arjuno

MENJAGA HUTAN, MENGHIDUPKAN DESA: Gerakan “Hutan Asuh” Girijaya Menyulap Camping Ground Menjadi Laboratorium Konservasi

KPPU Dalami Kasus Dugaan Monopoli hingga Predatory Pricing oleh TikTok

Feri Amsari Sebut Kabinet Bayangan Akan Lakukan Checks and Balances terhadap Kinerja Pemerintah

Mahfud MD: Kritik URI, Soroti Kasus Hukum, dan Seruan Keadilan

  • About
  • Redaksi
  • Marketing & Advertising
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Email
  • Login
No Result
View All Result
  • BERANDA
  • PERISTIWA
  • POLHUM
  • EKONOMI
  • VIDEO
  • ENTERTAINMENT
  • LUAR NEGERI
  • LIPUTAN DISKUSI
  • LIFESTYLE
  • RESENSI
  • SPORT
  • OPINI
  • INDEKS

Indonesia Visioner - All Rights Reserved