Jakarta, 15 Agustus 2026 – Terapi lintah atau hirudoterapi kembali menjadi perbincangan di tengah gencarnya promosi pengobatan alternatif. Metode kuno yang menggunakan lintah medis (Hirudo medicinalis) ini memang diakui memiliki manfaat dalam dunia medis modern, tetapi juga menyimpan risiko serius yang sering luput dari perhatian publik.
Dosen Ilmu Biomedik Fakultas Kedokteran IPB University, Sera Budi Verinda, menjelaskan bahwa dalam praktik medis saat ini, hirudoterapi paling sering digunakan sebagai langkah penyelamatan dalam bedah plastik dan rekonstruktif, terutama untuk mengatasi kongesti vena atau penumpukan darah setelah operasi pencangkokan jaringan. “Lintah membantu memulihkan aliran darah ketika aliran vena terganggu, sehingga meningkatkan kelangsungan hidup jaringan,” ujarnya.
Air liur lintah mengandung berbagai senyawa bioaktif, seperti hirudin yang berfungsi sebagai antikoagulan, serta enzim dan peptida yang mampu mengurangi pembekuan darah dan peradangan. Dalam dunia kosmetik, terapi ini juga digunakan untuk membantu penyembuhan setelah operasi rekonstruksi wajah.
Klaim dan Penelitian Ilmiah
Berbagai studi menunjukkan potensi terapi lintah untuk mengatasi nyeri. Sebuah tinjauan naratif menyimpulkan bahwa hirudoterapi dapat menjadi terapi mandiri atau pendukung yang efektif dalam pengobatan nyeri pada berbagai kondisi klinis. Sebuah studi komprehensif dari Azerbaijan bahkan mencatat tingkat keberhasilan 82,68% pada 11 kondisi, dengan tingkat keberhasilan 100% untuk osteoartritis dan penyakit Raynaud.
Penelitian pada hewan juga menunjukkan hasil menjanjikan. Studi pada tikus dengan sindrom metabolik menemukan bahwa hirudoterapi selama 4 dan 8 minggu dapat memperbaiki fungsi hati, sensitivitas insulin, dan tekanan darah. Penelitian lain menunjukkan bahwa terapi ini berpotensi mengurangi stres oksidatif dalam tubuh.
Risiko dan Efek Samping
Meski memiliki manfaat, hirudoterapi tidak bebas risiko. Sebuah tinjauan sistematis terhadap 12 studi tentang penggunaan lintah dalam rekonstruksi payudara menemukan bahwa dari 34 pasien, 9 mengalami kehilangan flap (26,5%), 9 mengalami infeksi (26,5%), dan 19 mengalami nekrosis flap (55,9%). Enam dari sembilan kasus infeksi disebabkan oleh bakteri dari lintah itu sendiri.
Selain itu, efek antikoagulan hirudin dapat menyebabkan perdarahan berkepanjangan hingga beberapa jam pascaprosedur, yang berisiko memicu anemia. Karena itu, orang dengan gangguan pembekuan darah atau anemia tidak disarankan menjalani terapi ini.
Kesimpulan
Hirudoterapi adalah alat klinis yang bernilai untuk kondisi tertentu, terutama dalam bedah rekonstruktif. Namun, penggunaannya harus dilakukan di bawah pengawasan medis ketat dengan standar sterilisasi tinggi. Sera Budi Verinda dari IPB menekankan, “Saya hanya merekomendasikannya jika pengobatan konvensional tidak berhasil atau tidak memungkinkan. Pastikan untuk selalu mendiskusikan pengobatan komplementer yang Anda pilih dengan Dokter Anda.”




