Indonesia Visioner
  • BERANDA
  • PERISTIWA
  • POLHUM
  • EKONOMI
  • VIDEO
  • ENTERTAINMENT
  • LUAR NEGERI
  • LIPUTAN DISKUSI
  • LIFESTYLE
  • RESENSI
  • SPORT
  • OPINI
  • INDEKS
No Result
View All Result
Indonesia Visioner
No Result
View All Result

Girijaya: Potensi Wisata Alam & Makam Eyang Santri, Tapi Riset IPB Hanya Berakhir di Rak Desa

by Visioner Indonesia
Agustus 15, 2026
in Daerah, Pariwisata
Reading Time: 5min read
Girijaya: Potensi Wisata Alam & Makam Eyang Santri, Tapi Riset IPB Hanya Berakhir di Rak Desa

Sukabumi, 15 Agustus 2026 – Di kaki Gunung Salak yang diselimuti kabut dan kisah mistis, Desa Girijaya menyimpan potensi wisata yang luar biasa. Dari makam keramat Eyang Santri, curug-curug eksotis, hingga tradisi Seren Taun yang masih lestari. Tapi sayang, semua potensi itu seolah terpendam, menunggu uluran tangan untuk dihidupkan.

Desa adat di Kecamatan Cidahu, Kabupaten Sukabumi, ini memang belum banyak dikenal. Namun bagi yang sudah merasakan, Girijaya adalah perpaduan sempurna antara wisata religi, alam, dan budaya. Makam Eyang Santri, atau K.P.H. Djojokoesoemo, menjadi magnet utama bagi peziarah dari berbagai daerah. Beliau adalah ulama dan negarawan dari Trah Mangkunegaran yang berperan dalam Perang Jawa, bahkan wafat dalam usia 158 tahun.

“Hampir setiap hari ada saja yang datang ziarah, apalagi menjelang haul,” ujar salah satu warga setempat. “Tapi ya itu, setelah ziarah, biasanya mereka langsung pulang. Belum banyak yang tahu ada curug di belakang makam.”

Curug Tersembunyi di Balik Makam

Dari area makam Eyang Santri, pengunjung bisa berjalan kaki sekitar satu kilometer menyusuri jalur tanah yang masih alami menuju Curug Plangi dan Curug Pilung. Suara gemericik air dan terpaan angin sejuk dari hutan Gunung Salak menemani setiap langkah. Ini adalah pengalaman trekking yang tenang, jauh dari hiruk-pikuk wisata massal.

“Jalannya masih tanah, belum ada beton, tapi justru itu yang bikin adem,” kata seorang pengunjung yang ditemui di lokasi. “Rasanya seperti kembali ke alam.”

Selain Curug Plangi dan Pilung, kawasan Cidahu juga dikenal dengan “Wisata Tiga Curug” yang menawarkan petualangan mengunjungi tiga air terjun dalam satu jalur trekking. Curug Tepus, Curug Tugu, dan Curug Cempaka—yang terakhir disebut sebagai curug tertinggi dan terindah di kawasan ini dengan ketinggian sekitar 50 meter. Airnya yang jernih dan segar berasal langsung dari mata air Gunung Salak.

Seren Taun dan Potensi Budaya yang Menganggur

Setiap tahun, masyarakat Kasepuhan Girijaya menggelar Seren Taun, tradisi sedekah bumi yang telah berlangsung selama 199 tahun. Acara ini menjadi magnet bagi wisatawan dari berbagai daerah, termasuk Banten, Jakarta, hingga Jawa Tengah.

Pemerintah Kabupaten Sukabumi bahkan telah menetapkan Desa Girijaya sebagai desa wisata dengan empat destinasi unggulan. Namun, penetapan status itu belum diikuti dengan eksekusi nyata di lapangan.

“Desa Girijaya itu sudah ditetapkan sebagai desa wisata. Tapi ya itu, kalau kita lihat di lapangan, masih banyak yang perlu dibenahi,” ujar seorang pengamat pariwisata. “Akses jalan, fasilitas umum, promosi, semua masih sangat minim.”

Tantangan Akses dan Fasilitas

Untuk menuju Girijaya, pengunjung harus melewati jalan berkelok dari Cicurug menuju Cidahu. Jalannya sudah beraspal, tapi cukup curam dan sempit di beberapa titik. Setelah sampai di area parkir, perjalanan masih harus dilanjutkan dengan berjalan kaki.

“Kadang wisatawan bingung karena tidak ada papan penunjuk arah yang jelas,” keluh seorang pemuda desa. “Mereka hanya mengandalkan info dari mulut ke mulut atau media sosial.”

Area parkir yang terbatas, minimnya tempat istirahat, dan belum adanya homestay yang representatif menjadi kendala lain. IPB University melalui program Dosen Pulang Kampung pernah memfasilitasi penataan lanskap dan perencanaan wisata di sini. Namun, hasil penelitian itu hingga kini belum dieksekusi.

“Kami sudah buat peta potensi dan rencana lanskap, tapi implementasinya memang butuh dukungan dari semua pihak,” ujar Vera Dian Damayanti, dosen IPB yang terlibat dalam program tersebut.

Riset IPB Hanya Berakhir di Rak Desa

Tim dosen IPB telah merampungkan penelitian dan perancangan program pengembangan wisata berbasis masyarakat di Desa Girijaya. Dua program unggulan yang dirancang adalah penataan lanskap agroeduwisata dan pengembangan homestay berbasis komunitas. Namun, hingga Agustus 2026, hasil penelitian tersebut belum menampakkan eksekusi nyata. Tidak ada satu pun jalur wisata, spot foto, maupun homestay yang dibangun sesuai rekomendasi tim peneliti.

“Kami sudah serahkan dokumen lengkap ke perangkat desa dan dinas terkait. Isinya detail, mulai dari peta zoning, desain tapak, hingga strategi pengelolaan,” ujar salah satu anggota tim yang enggan disebut namanya. “Tapi sampai sekarang, tidak ada tindak lanjut.”

Fenomena ini bukan kali pertama terjadi. Banyak program pendampingan desa yang berhenti di ranah akademik tanpa diterjemahkan ke kebijakan konkret. Di Desa Girijaya, tim IPB bahkan sudah melibatkan warga dan masyarakat adat Kasepuhan Girijaya dalam proses perencanaan partisipatif. Namun, setelah riset usai, tidak ada alokasi anggaran desa maupun pendampingan teknis berkelanjutan.

Kepala Desa Girijaya saat dikonfirmasi mengakui belum ada langkah lanjutan. “Kami masih menunggu arahan dari dinas pariwisata. Anggaran desa juga terbatas,” ujarnya singkat.

Sementara itu, Dinas Pariwisata dan Budaya Kabupaten Sukabumi menyatakan baru menerima laporan awal dari tim IPB dan masih dalam tahap verifikasi. “Kami apresiasi kerja keras akademisi. Tapi implementasi butuh kajian lebih lanjut dan koordinasi lintas sektor,” kata perwakilan dinas.

Harapan untuk Masa Depan

Desa Girijaya memiliki modal besar: sejarah, budaya, dan alam yang masih asri. Tradisi Seren Taun sudah diakui sebagai warisan budaya, makam Eyang Santri menjadi destinasi religi yang ramai, dan curug-curugnya menyimpan pesona alam yang memikat.

Yang diperlukan sekarang adalah eksekusi. Perbaikan akses jalan, penambahan fasilitas umum, pelatihan pemandu wisata, dan promosi yang lebih masif. Jika semua itu terwujud, Girijaya bukan hanya akan menjadi destinasi wisata, tetapi juga penggerak ekonomi masyarakat adat yang selama ini hidup dari bertani dan beternak ikan.

“Potensi itu ada, tinggal bagaimana kita mengelolanya,” kata seorang tokoh adat. “Kami berharap pemerintah dan semua pihak bisa bersinergi. Jangan sampai potensi ini hanya jadi cerita.”


Previous Post

Dari Bekam hingga Lintah: Turki Modernkan Pengobatan Kuno, Indonesia Bisa Tiru?

Next Post

14 Desa Wisata Menarik untuk Destinasi Liburan Berikutnya

Related Posts

Update Data Korban Gempa NTT Pukul 11.30 WIB: 38 Tewas, 13 Luka, dan 2 Tertimbun
Daerah

Update Data Korban Gempa NTT Pukul 11.30 WIB: 38 Tewas, 13 Luka, dan 2 Tertimbun

Agustus 15, 2026
Pemuda Jogja Turun ke Jalan Jelang HUT RI: “Merdeka Tapi Tak Merasakan Kemerdekaan”
Daerah

Pemuda Jogja Turun ke Jalan Jelang HUT RI: “Merdeka Tapi Tak Merasakan Kemerdekaan”

Agustus 15, 2026
14 Desa Wisata Menarik untuk Destinasi Liburan Berikutnya
Daerah

14 Desa Wisata Menarik untuk Destinasi Liburan Berikutnya

Agustus 15, 2026
Pesantren Didorong Kelola Limbah Berbasis Alam, Itera Kenalkan Teknologi Ramah Lingkungan
Daerah

Pesantren Didorong Kelola Limbah Berbasis Alam, Itera Kenalkan Teknologi Ramah Lingkungan

Agustus 15, 2026
Warga Lugusari Dilatih Membuat Plester Herbal dari Kunyit dan Sambiloto
Daerah

Warga Lugusari Dilatih Membuat Plester Herbal dari Kunyit dan Sambiloto

Agustus 15, 2026
Daerah

BUMDes Badran Sari Kembangkan Wisata Berbasis Data dengan Smart Tourism Dashboard

Agustus 15, 2026

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

TERKINI

Prabowo Ingin Bentuk Pengadilan Ad Hoc BUMN, Respons Menkum: “Itu Hanya Contoh”

Update Data Korban Gempa NTT Pukul 11.30 WIB: 38 Tewas, 13 Luka, dan 2 Tertimbun

Indonesia Juara Cetak Crazy Rich Baru Tercepat, Ke Mana Larinya Uang Mereka?

Pajak dan Regulasi Properti Dinilai Mencekik, Taipan Kompak Protes

Presiden Prabowo Ucapkan Terima Kasih ke PDIP Mau Kritik dan Awasi Kinerja Pemerintah

Pemerintah Waspadai Gerakan Provokasi Jelang 17 Agustus, Aparat Siapkan Langkah Antisipasi

TERPOPULER

Prabowo Ingin Bentuk Pengadilan Ad Hoc BUMN, Respons Menkum: “Itu Hanya Contoh”

Update Data Korban Gempa NTT Pukul 11.30 WIB: 38 Tewas, 13 Luka, dan 2 Tertimbun

Indonesia Juara Cetak Crazy Rich Baru Tercepat, Ke Mana Larinya Uang Mereka?

Pajak dan Regulasi Properti Dinilai Mencekik, Taipan Kompak Protes

Presiden Prabowo Ucapkan Terima Kasih ke PDIP Mau Kritik dan Awasi Kinerja Pemerintah

Pemerintah Waspadai Gerakan Provokasi Jelang 17 Agustus, Aparat Siapkan Langkah Antisipasi

  • About
  • Redaksi
  • Marketing & Advertising
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Email
  • Login
No Result
View All Result
  • BERANDA
  • PERISTIWA
  • POLHUM
  • EKONOMI
  • VIDEO
  • ENTERTAINMENT
  • LUAR NEGERI
  • LIPUTAN DISKUSI
  • LIFESTYLE
  • RESENSI
  • SPORT
  • OPINI
  • INDEKS

Indonesia Visioner - All Rights Reserved