Jakarta, 5 Oktober 2026 – Konflik berkepanjangan di Timur Tengah mulai berdampak nyata pada pasokan energi Indonesia. Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengakui bahwa Indonesia telah kehilangan sekitar 25 persen sumber impor minyak mentahnya sejak perang di kawasan tersebut memuncak pada akhir Februari 2026.
Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi (Migas) Kementerian ESDM, Laode Sulaeman, mengungkapkan bahwa kondisi ini memaksa pemerintah mengubah strategi pengadaan yang selama ini berjalan. “Sejak terjadinya konflik di Timur Tengah, kita kehilangan 25 persen sumber impor,” ujar Laode dalam Rapat Koordinasi Pengendalian Inflasi Daerah 2026 yang disiarkan melalui kanal YouTube Kementerian Dalam Negeri, Senin (5/10/2026).
Dari Lelang ke Perburuan Pasokan
Laode menjelaskan bahwa mekanisme pengadaan minyak mentah oleh Pertamina yang sebelumnya dilakukan melalui lelang kini menghadapi kendala serius. Jumlah peserta lelang menyusut drastis akibat ketidakpastian pasokan global dan risiko geopolitik yang tinggi.
“Kalau sebelumnya Pertamina itu melakukan lelang, maka sekarang lelang itu relatif pesertanya tidak ada,” kata Laode.
Sebagai respons, pemerintah mengalihkan strategi menjadi “hunting” atau pencarian langsung ke negara-negara yang masih memiliki kelebihan stok minyak. Laode mengakui bahwa langkah ini berpotensi membuat harga pembelian lebih mahal dibandingkan mekanisme pengadaan normal.
“Jadi kita harus cari negara-negara yang punya kelebihan stok, kita beli dengan harga yang bisa berpotensi lebih tinggi daripada harga kalau kita lakukan dengan pengadaan biasa,” ujarnya.
Dampak pada Harga Minyak Dunia
Konflik di Timur Tengah yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran telah memicu lonjakan harga minyak mentah global. Sebelum konflik, harga minyak berada di kisaran 60-65 dolar AS per barel. Namun, pada periode April-Mei 2026, harga sempat melampaui 100 dolar AS per barel, bahkan menyentuh sekitar 110 dolar AS per barel pada puncaknya.
Kenaikan harga minyak dunia berdampak langsung pada nilai impor Indonesia. Menteri Perdagangan Budi Santoso mencatat bahwa nilai satuan impor migas meningkat dari 689 dolar AS per ton pada Maret 2026 menjadi 1.042 dolar AS per ton pada Mei 2026. Secara keseluruhan, nilai satuan impor Indonesia untuk migas dan nonmigas naik dari 907 dolar AS per ton menjadi 1.036 dolar AS per ton pada periode yang sama.
Diversifikasi Sumber Pasokan
Pemerintah telah mengambil langkah mitigasi dengan mengalihkan sumber impor minyak mentah ke negara-negara yang tidak terdampak konflik. Sebelum konflik, sekitar 20-25 persen impor minyak mentah Indonesia berasal dari Timur Tengah melalui Selat Hormuz. Sisanya dipasok dari Nigeria, Angola, Amerika Serikat, Brazil, dan beberapa negara lain.
Indonesia juga telah mengamankan komitmen pasokan dari Rusia. Dalam kunjungan Presiden Prabowo Subianto ke Rusia pada April 2026, Indonesia memperoleh komitmen 150 juta barel minyak mentah dengan harga khusus, yang akan dikirim secara bertahap hingga akhir 2026.
“Kita juga sourcing dari negara-negara di Afrika, termasuk Nigeria dan Angola, serta dari Amerika Serikat. Apapun sumbernya, kita akan terus melakukan upaya untuk memperkuat stok energi nasional,” ujar Juru Bicara Kementerian ESDM, Dwi Anggia.
Stok Nasional Masih Aman
Meskipun kehilangan seperempat sumber impor, Laode memastikan bahwa ketahanan stok BBM nasional masih terjaga pada level 18 hingga 20 hari. Pemerintah juga berkomitmen untuk menjaga harga BBM subsidi tetap tidak naik hingga akhir tahun 2026.
Laode menjelaskan bahwa antrean BBM yang terjadi di sejumlah daerah bukan disebabkan oleh kekosongan stok, melainkan faktor El Nino yang mengganggu distribusi. Sungai yang mengering memaksa pengiriman BBM dialihkan dari jalur air ke jalur darat menggunakan truk, yang kapasitas angkutnya lebih kecil.
“Jadi kalaupun kemudian terjadi antrean, antrean lebih disebabkan bukan karena ketahanan stok, tapi karena salah satunya kondisi El Nino,” terangnya.
Pemerintah terus berkoordinasi dengan pemerintah daerah untuk memitigasi berbagai kendala distribusi di lapangan. Masyarakat diimbau tetap tenang dan tidak melakukan pembelian BBM secara berlebihan.




















