Harga Energi Dunia Ramai-Ramai Terbang: Minyak dan Batu Bara Mendidih

Jakarta, 13 Oktober 2026 – Pasar energi global tengah bergolak. Harga minyak mentah dan batu bara kompak melonjak dalam beberapa pekan terakhir, dipicu kombinasi ketegangan geopolitik, gangguan pasokan, dan lonjakan permintaan musiman. Kenaikan ini memicu kekhawatiran baru terhadap inflasi dan stabilitas ekonomi global.

Minyak Mentah Bertahan di Atas US$100

Harga minyak mentah Brent masih bertahan di atas level US$100 per barel. Pada perdagangan Senin (12/10/2026), Brent sempat menyentuh US$106,65 per barel, level tertinggi sejak pertengahan September 2026. Meski pada Selasa (13/10/2026) pagi terpantau turun sekitar 1 persen ke US$105,47 per barel, harga minyak masih jauh di atas level normal.

Pelemahan tipis ini terjadi setelah Presiden AS Donald Trump menyambut baik kembalinya ekspor diesel Rusia ke pasar global, yang sedikit meredakan kekhawatiran pasokan. Namun, risiko geopolitik di Timur Tengah masih membayangi. Serangan terhadap bandara internasional Arab Saudi dan sejumlah kapal tanker di dekat Selat Hormuz membuat pasar tetap waspada.

Batu Bara Tembus Level Tertinggi dalam Tiga Tahun

Yang lebih mengejutkan, harga batu bara melonjak ke level tertinggi dalam tiga tahun terakhir. Harga batu bara termal China menembus CNY 1.004 per ton (sekitar US$150) untuk pertama kalinya dalam dua tahun, naik sekitar 25 persen sejak pertengahan Juli.

Di pasar Eropa, kontrak batu bara API2 mencapai US$148 per ton untuk kontrak November 2026, tertinggi dalam lebih dari dua tahun. Sementara harga batu bara Afrika Selatan dan Australia juga menguat signifikan.

Tiga Pemicu Utama Lonjakan Batu Bara

Lonjakan harga batu bara didorong oleh setidaknya tiga faktor utama dari Asia:

  1. Pasokan China Menipis. Produksi batu bara domestik China turun lebih dari 3 persen sepanjang Januari-Agustus 2026. Penurunan ini terjadi setelah pemerintah memperketat pengawasan keselamatan pasca-kecelakaan tambang mematikan di Provinsi Shanxi pada Mei lalu. Pemulihan produksi berjalan lebih lambat dari perkiraan karena persetujuan pembukaan kembali tambang tertunda.
  2. Ekspor Indonesia Terhambat. Sebagai pemasok utama batu bara termal impor China, pengiriman dari Indonesia turun tajam. Pemerintah Indonesia membatasi produksi untuk memulihkan harga, sementara kekeringan akibat El Nino menurunkan permukaan air sungai di Kalimantan. Kondisi ini memaksa operator tongkang mengurangi muatan, menghambat pengiriman.
  3. Krisis Listrik India. Persediaan batu bara di banyak pembangkit listrik India merosot ke level kritis. Lebih dari 40 persen PLTU India dilaporkan memiliki persediaan batu bara sangat rendah. Pemadaman listrik mulai melanda rumah tangga, pabrik kecil, dan fasilitas peleburan logam. Kekurangan listrik India mencapai level tertinggi dalam lebih dari tiga tahun pada September 2026.

Perang Gas dan Substitusi Energi

Lonjakan harga batu bara juga tidak lepas dari krisis gas alam cair (LNG) akibat perang AS-Iran. Blokade Selat Hormuz menghambat pasokan LNG dari Qatar, memaksa banyak negara beralih ke batu bara. International Energy Agency (IEA) mencatat harga LNG yang tinggi mendorong ekonomi seperti China, India, Jepang, Korea Selatan, dan sebagian Eropa untuk lebih mengandalkan pembangkit listrik tenaga batu bara.

Karena biaya batu bara sekitar 80 persen lebih murah dibanding LNG, pembeli di Asia dan Eropa berlomba-lomba menambah impor batu bara sebelum musim dingin tiba.

Proyeksi ke Depan

Analis memperkirakan harga batu bara masih akan bertahan tinggi hingga akhir tahun. Konsumsi batu bara China biasanya meningkat selama musim dingin, sementara pemulihan produksi diperkirakan berjalan bertahap. Gangguan transportasi akibat cuaca kering dan pemeliharaan jalur kereta juga diprediksi tetap menekan pasokan.

Untuk minyak, risiko geopolitik masih menjadi faktor dominan yang menentukan pergerakan harga. Selama ketegangan di Timur Tengah belum mereda, harga minyak diperkirakan tetap volatile dan bertahan di level tinggi.

Kenaikan harga energi ini menjadi tantangan serius bagi perekonomian global, terutama bagi negara-negara pengimpor energi seperti Indonesia. Pemerintah pun dituntut untuk mengantisipasi dampaknya terhadap inflasi, subsidi energi, dan daya beli masyarakat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Terkait

Terbaru